RADIO HARMONI FM

  • REQUEST ONLINE

    Request pujian atau mengirimkan salam melalui Yahoo

  • DOWNLOAD APLIKASI

  • Streaming didukung oleh:





  • Kategori

  • Shoutbox


    Loading

    WP Shoutbox
    Name
    Website
    Message
    Smile
    :mrgreen::neutral::twisted::arrow::shock::smile::???::cool::evil::grin::idea::oops::razz::roll::wink::cry::eek::lol::mad::sad:8-)8-O:-(:-):-?:-D:-P:-o:-x:-|;-)8)8O:(:):?:D:P:o:x:|;):!::?:
  • FACEBOOK

  • TERBARU

HIV AIDS DAN DIIT PADA PENDERITA HIV AIDS

Posted by Admin On July - 29 - 2014
Sudah dibaca :2638

 

HIV AIDS DAN DIIT PADA PENDERITA HIV AIDS

Narasumber : Dr Tripomo Widianto, MMRS dan Intan Kusumadiani, AmG

Disampaikan dalam Talk Show Gizi dan Kesehatan di Radio Harmoni tanggal 20 Juni 2014

talkshow radio harmoni fm

talkshow radio harmoni fm

AIDS adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh sejenis virus yang disebut dengan virus HIV (Human imunodeficiency virus), yang kalau diterjemahkan berarti virus yang dapat menyebabkan penurunan imunitas/daya tahan tubuh.

AIDS artinya adalah suatu sindroma atau kumpulan gejala dimana penderita mengalami penurunan daya tubuh, dimana nampak dari gejala yang ditimbulkan seperti penurunan berat badan secara cepat, diare yang berkepanjangan, dan berulang serta timbulnya berbagai infeksi yang tidak umum terjadi seperti infeksi jamur, tuberculosis, serta infeksi/radang pada otak atau selaput otak.

Aids pertama kali dilaporkan pada tanggal 5 Juni 1981, ketika Centers for Disease Control dan Prevention Amerika Serikat mencatat adanya Pneumonia pnumosistis pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles.

Jumlah orang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus terus meningkat pesat, tersebar luas di seluruh dunia. Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. Menurut perkiraan UNAIDS (United Nations Programee on Human Immunodeficiency Virus/Aquired Imunodeficiency Syndrome) dan World Health Organization (WHO),  pada akhir tahun 1999 lebih dari34,3 juta penduduk dunia hidup dengan membawa virus HIV dan 1,3 juta diantarnya adalah anak umur kurang dari 15 tahun. Sebagian besar dari orang yang terinfeksi berkembang menjadi AIDS dan secara kumulatif sejak terjadinya pandemi, lebih kurang 18,8 juta orang telah meninggal dunia oleh karena penyakit ini

Virus HIV memiliki keistimewaan, yaitu virus ini dapat mengelabuhi sistem pertahanan tubuh sehingga tidak dapat mengenali bahwa tubuh sudah terinfeksi virus. Akibatnya virus ini dapat terus menerus secara leluasa menginfeksi tubuh penderitanya. Virus HIV ditemukan dalam cairan tubuh terutama darah, cairan sprema, cairan vagina dan air susu ibu.

Sesudah HIV memasuki tubuh manusia, partikel virus tersebut bergabung dengan DNA sel penerita yang terinfeksi, DNA sel akan selalu ada pada tubuh manusia, sehingga sebagai akibatnynya, satu kali seseorang terinfeksi HIV, seumur hidup ia akan tetap terinfeksi dan diistilahkan sebagai orang dengan HIV. Dari semua pengidap HIV, hanya sedikit yang menjadi AIDS dalam waktu 3 tahun pertama, diperlukan waktu sekitar 3 sampai 10 tahun bagi pengindap HIV umtuk mencapai tahap AIDS yang selanjutnya disebut penderita AIDS.

Perjalanan penyakit tersebut menunjukkan gambaran penyakit kronis, sesuai dengan perusakan sistem kekbalan tubuh yang bertahap. Sel yang diserang adalah limfosit T, dimana limfosit T sangat berperan dalam sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga bila jumlah dan fungsinya terganggu menyebabkan seseorang mudah diserang penyakit infeksi dan kanker

Kerusakan sistem kekebalan yang bertahap tersebut tercermin dari perkembangan perjalanan penyakit infeksi HIV, mulai tanpa gejala sampai dengan keadaaan klinis yang amat berat. Pada tahap awal biasanya penderita tidak  menunjukkan gejala sama sekali, ia merasa sehat dan dari luar tampak sehat, tetapi sudah dapat menularkan HIV kepada orang lain. Kadang-kadang ada juga yang kelenjar getah beningnya membesar, tetapi dapat bekerja normal dan tidak mempunyai keluhan.

 

Gejala Infeksinya ada beberapa tahap :

  1. Tahap infeksi akut

Sebanyak 30-60% penderita mengalami gejala tidak khas, timbul dalam 6 minggu pertama, berupa demam, rasa letih, sakit pada otot dan sendi, sakit menelan, dan pembesaran kelenjar getah bening. Jadi gejalanya mirip gejala influensa atau mononukleus infeksiosa.

Ada juga yang disertai gejala radang selaput otak (meningitis aseptik) berupa demam, sakit kepala, kejang-kejang, dan kelumpuhan saraf otak. Pemeriksaan cairan otak menunjukkan peningkatan kadar protein dan sel mononuklear. Gejala infeksi akut HIV biasanya sembuh sendiri.

  1. Tahap Asimtomatik (tanpa gejala)

Bila seseorang baru saja terinfeksi HIV, biasanya tidak menunjukkan gejala, dan tidak ada keluhan. Hal ini dapat berlangsung antara 6 minggu sampai dengan beberapa bulan atau bahkan tahun setelah infeksi

  1. Tahap simtomatik ringan

Setelah beberapa tahun tanpa gejala, pada tahap berkutnya berat badan penderita menurun, walaupun tidak mencolok, tidak sampai 10%. Pada tahap ini kadang-kadang ada gejala kulit dan mulut yang ringan misalnya infeksi jamur pada kuku, sariawan yang berulang pada mulut dan peradangan pada sudut mulut. Infeksi bakteri pada saluran nafas bagian atas yang berulang juga dapat ditemukan, walaupun demikian, penderita masih dapat melakukan aktifitas normal.

Pada tahap yang lebih lanjut, penderita makin kurus, penurunan berat badan sudah lebih dari 10%, diare yang lamanya lebih dari 1 bulan, panas yang tidak diketahui sebabnya selama lebih dari 1 bulan baik yang hilang timbul maupun panas yang terus menerus. Gangguan mulut yang sering ditemukan adalah sariawan karena jamur (kandidiasis) dan bercak putih seperti berambut (oral hairy leukoplakia). Radang  paru kadang juga dijumpai berupa tuberculosis paru dan pneumonia berat akibat infeksi bakteri. Ada tahap ini penderita biasanya terbaring di tempat tidur labih dari 12 jam sehari, selama sebulan terakhir.

  1. Tahap AIDS (Tahap lanjut)

Pada tahap akhir penderita diserang oleh satu atau beberapa macam infeksi oputunistik, misal pneumonia pneumocystis carinii, toksoplasmosis otak, diare akibat kriptosporidiosis, penyakit virus sitomegalo, infeksi virus herpes, kandidiasis esophagus, trakea, bronkus atau paru serta infeksi jamur jenis yang lain misalnya histoplasmosis, kaksidiomikosis. Kadang dapat ditemukan beberapa jenis kanker, antara lain kanker kelenjar getah bening dan kanker sarkoma kaposisi.

 

Faktor AIDS antara lain : Perilaku beresiko (sekarang atau di masa lalu) :

  1. Hubungan seksual dengan mitra seksual resiko tinggi tanpa menggunakan kondom
  2. Pecandu narkotika suntikan (penasun)
  3. Hubungan seksual tidak aman :

–            Memiliki banyak mitra seksual

–            Mitra seksual yang diketahui pasien HIV/AIDS

–            Mitra seksual dari daerah dengan prevalensi HIV?AIDS yang tinggi

–            Homoseksual

  1. Pekerja dan pelanggan tempat hiburan seperti panti pijat, diskotik, karaeoke atau tempat prostitusi terselubung
  2. Mempunyai riwayat infeksi menular seksual
  3. Riwayat menerima transfusi darah berulang
  4. Riwayat perlukaan kulit, tato, tindik atau sirkumsisi dengan alat yang tidak steril

 

Dengan  dilakukan tes langsung terhadap virus HIV atau secara tidak langsung dengan cara menemukan antibodi. Apabila ditemukan antibodi terhadap HIV, berarti terdapat infeksi HIV. Tes antibodi HIV biayanya murah, lebih cepat dan mempunyai spesifisitas yang setara dengan tes langsung terhadap virus HIV yang lebih rumit dan lebih mahal.

Ada beberapa tes antibodi HIV, antara lain tes ELISA, tes DIpstik (Rapid Test) : whole blood, dried bloodspots, saliva dan urine. Tes DNA PCR digunakan untuk mendiagnosis infeksi HIV pada bayi. Sedangkan HIV RNA PCR digunakan untuk mendiagnosis infeksi akut HIV dan monitoring perkembangan HIV.

 

Cairan tubuh yang dapat mengandung HIV yakni air mani, darah, cairan vagina, air susu ibu, air mata, air liur, air seni, air ketuban, dan caiaran serebrospinal. Akan tetapi yang potensial sebagai media penularan hanya air mani, darah, cairan vagina. Hingga saat ini cara penularan yang diketahui adalah melalui hubungan seksual, darah dan secara perinatal, yakni dari ibu ke bayinya yang dikandungnya.

 

Penjelasan  lebih rinci sebagai berikut :

  1. Penularan melalui hubungan seksual

Beberapa aktivitas seksual memberikan risiko penularan HIV yang berbeda-beda, berdasarkan urutan kemungkian risiko penularan HIV dari yang tertinggi sampai yang terendah sebagai berikut : hubungan seksual lewat liang dubur, liang vagina, dengan menggunakan mulut, ciuman mulut dengan mulut, ciuman mulut dengan alat kelamin.

  1. Penularan melalui darah

Transmisi melalui transfusi darah/produk darah dan penularan melalui alat suntik/alat medis yang tidak steril pada kelompok penyalahgunaan narkotika yang menggunakan jarum suntik yang tidak steril bergantian

  1. Penularan melalui cairan tubuh lain

Penularan dapat terjadi melalui penerimaan organ, jaringan atau air mani.

  1. Penularan secara perinatal

Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan kepada bayi yang dikandungnya. Penularan ibu ke bayi terumta saat proses persalinan. Pada proses melahirkan terjadi kontak antara darah ibu dengan bayinya sehingga virus HIV dapat masuk tubuh bayi. Bayi dapat pula terltlar dari ibu sewaktu masih di dalam kandungan atau tertular melalui air susu ibu (ASI), walau dua cara penularan yang terakhir ini lebih sedikit dibanding denagn saat proses persalinan. Atas dasar penularan melalui ASI maka dianjurkan agar ibu dengan HIV tidak menyusui bayinya dan diganti dengan pengganti ASI.

 

Penanganan  seseorang yang telah terdiagnosis mengidap HIV/AIDS atau disebut Orang dengan HIV AIDS/ODHA, adalah :

perawatan (Care), dukungan (Support), dan pengobatan (Treatment). Orang dengan HIV AIDS memerlukan terapi ARV. Apabila ODHA disertai TBC paru maka pengobatan TBC Paru dimulai terlebih dahulu selama 2 bulan. Bulan ketiga baru dimulai pengobatan ARV bersama obat TBC paru.

 

Dari segi gizi perlu diperhatikan, karena memburuknya status gizi merupakan risiko tertinggi penyakti ini. Gangguan gizi pada pasien AIDS umumnya terlihat pada penurunan berat badan. Ada 2 tipe penurunan berat badan pada AIDS yaitu penuruan berat badan yang lambat dan yang cepat. Penurunan berat badan yang cepat sering dihubungkan dengan infeksi opurtunistik. Penurunan berat badan lebih dari 20% BB sulit diperbaiki dan sering mempunyai prognosa yang buruk.

Memburuknya status gizi bersifat multifaktor, terutama disebabkan oelh kuranganya asupan makanan, gangguan absorbsi dan metabolisme zat gizi, infeksi opurtunistik serta kurangnya aktifitas fisik. Kurangnya supan makanan disebabkan oleh anoreksia (nafsu makan menurun), depresi, rasa lelah, mual, muntah, sesak nafas, diare, infeksi, dan penyakit saraf yang menyertai penyakit HIV/AIDS. Karena gangguan gizi memegang peranan penting dalam perjalanan penyakti HIV AIDS, terapi diet dan konsultasi gizi memegang peranan penting dalam upaya penyembuhan

 

Ada 2 tujuan diet pada penderita HIV , pertama tujuan secara umum adalah :

  • Memberikan intervensi gizi secara cepat, dengan mempertimbangkan seluruh aspek dukungan gizi pada semua tahap dini penyakit infeksi HIV
  • Mencapai dan mempertahankan berat badan serta komposisi tubuh yang diharapakan terutama jaringan otot
  • Memenuhi kebutuhan energi dan semua zat gizi
  • Mendorong perilaku sehat dalam menerapkan diet, olahraga dan relaksasi

 

Sedangkan tujuan secara khusus adalah

  • Mengatasi diare, intoleransi laktosa, mual dan muntah
  • Meningkatkan kemampuan untuk memusatkan perhatian yang terlihat pada peasien dapat membedakan antara gejala anoreksia, perasaan kenyang, perubahan indera pengecap, dan kesulitan menelan
  • Mencapai dan mempertahankan berat badan normal
  • Mencegah penurunan berat badan yang berlebihan terutama jaringan otot
  • Memberikan kebebasan kepada penderita untuk memilih makanan yang adekuat sesuai dengan kemampuan makan dan jenis terapi yang diberikan

 

Syarat diet ini harus tinggi energi, tinggi protein, cukup lemak, tinggi vitamin dan mineral, cukup serat, cairan cukup, cukup elektrolit.

Sedangkan bentuk makanannya dimodifikasi sesuai dengan keadaan penderita HIV/AIDS. Hal ini dilakukan dengan pendekatan perorangan, dengan melihat kondisi dan toleransi pasien. Apabila terjadi penurunan berat badan yang cepat maka disanjurkan pemberian makanan melalui pipa atau sonde sebagai makanan utama atau makanan selingan

Porsi makanan kecil dan sering dan penderita harus menghindari makanan yang merangsang pencernaan baik secara mekanik, termik maupun kimia.

 

Bahan makanan yang dianjurkan adalah  semua bahan makanan sumber karbohidrat  kecuali yang menimbulkan gas seperti ubi jalar, singkong

Untuk sumber protein hewani yang dianjurkan adalah susu, daging, telur, ayam tidak berlemak dan ikan. Sedangkan yang tidak dianjurkan adalah daging dan ayam yang berlemak, kulit ayam

Untuk sumber protein nabati yang dianjurkan adalah tempe,tahu dan kacang hijau. Sedangkan yang tidak dianjurkan adalah kacang merah

Sebagai sumber lemak bisa digunakan minyak, margarnie, santan, dan kelapa dalam jumlah terbatas, namun makanan yang digoreng dan bersantan kental harus dihindari

Untuk sayuran gunakan sayuran yang tidak bergas seperti labu kuning, wortel, bayam , kangkung, buncis, kacang panjang dan tomat, sedangkan sayur yang perlu dihindari adalah sawi, kubis, dan ketimun

Buah-buahan yang dianjurkan adalah pepaya, pisang, jeruk, apel dan sebagainya, sedangkan yang harus dihindari adalah buah yang bergas seperti nangka, durian

 

Sebaiknya penderita HIV menggunakan bumbu yang tidak merangsang, seperti bawang putih, bawang merah, daun salam, ketumbar dan laos, sedanng bumbu cabe, lada , asam, cuka dan jahe tidak dianjurkan. Demikian pula dengan minuman bersoda dan beralkohol harus dihindari.

 

Sampai saat ini belum ditemukan obat yang mujarab yang dapat menyembuhkan AIDS atau vaksin yang efektif untuk mencegah infeksi HIV, oleh sebab itu maka upaya pencegahan non medik merupakan satu-satunya upaya penangkalan terhadap infeksi HIV

Di dalam penyuluhan harus ditekankan bahwa risiko terinfeksi HIV meningkat pada orang yang memiliki banyak mitra seksual, atau pada kelompok masyarakat yang menggunakan jarum suntik bersama. Hindari hubungan seksual dengan pengidap atau yang diduga terinfeksi HIV. Risiko penularan melalui hubungan seksual dapat dikurangi dengan menggunakan kondom lateks. Hubungan monogami jangka panjang antara 2 orang yang tidak terinfeksi HIV tidak mempunyai risiko untuk tertular HIV.

Sedangkan untuk mencegah penularan HIV melalui tranfusi darah  dan komponen darah dilakukan pemeriksaan antibodi terhadap HIV sebelumnya.

Jarum dan alat tajam lainnya harus diperlakukan secara hati-hati sejak penggunaan sampai pembuangan. Petugas kesehatan harus menggunakan sarung tangan lanteks bila kontak dengan darah atau cairan tubuh lain yang tampak berdarah termasuk gigi. Percikan darah penderita pada kulit petugas kesehatan harus segera dicuci dengan antiseptik, sabun dan air mengalir

 

Bagi pendengar yang masih memerlukan informasi lebih lanjut silahkan datang ke Polikllinik RSK Budi Rahayu untuk berkonsultasi dengan Dokter dan ke Poli Gizi Rumah Sakit Katolik Budi Rahayu untuk konsultasi gizi  yang beralamatkan di  jl. Ahmad Yani no 18 Blitar atau silahkan kunjungi web kami  www.budirahayu.com .

 

Pustaka

Instalasi Gizi dr Cipto Mangunkusumo dan ASDI, Penuntun Diet Edisi Baru, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 2004

Makalah Pertemuan Ilmiah Nasional Asosiasi Dietisien Indonesia ke III tahun 2007

Materi Penyuluhan Gizi Massal RSK Budi Rahayu Blitar

Masukkan Email Anda:

Leave a Reply

Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu. Amsal 16:3