TERAPI HATI DALAM EDUKASI
(PADUAN ILMU BIOLOGI DAN RELIGI)
Oleh: Andri F Gultom dan Johana Rosalia Nirmala
Di suatu pagi, saya melewati seorang anak gelandangan yang sedang tidur di jalanan. Di usia yang masih anak-anak itu mestinya ia sedang belajar di bangku sekolah. Namun, apa daya, ia tersingkir – mungkin – karena alasan ekonomi. Saya mengamati wajahnya lusuh, kasar, lelah, dan frustrasi. Saat saya merasa kasihan dengan keadaannya, ingatan saya kembali ke masa lalu dan membayangkan bahwa ia seperti seorang bayi – penuh dengan harapan dan keinginan. Saya juga menyadari bahwa selain keadaan yang tampak tersebut, ada sejumput asa yang samar yang tinggal di dalam dirinya. Beberapa hari kemudian, saya baru sungguh-sungguh tahu bahwa ternyata di dalam diri manusia tersimpan harapan dan keinginan layaknya anak kecil tadi.
Apa yang diinginkan oleh seorang anak kecil? Dia ingin dibelai, disentuh, dan disayang. Dia juga ingin dimiliki. Dia ingin bercanda, tertawa, dan bermain. Apa yang dapat diberikan oleh anak kecil ini? Dia memberi kita kehidupan, tenaga, kegembiraan, dan vitalitas. Dia memberi kita rasa ingin tahu dan rasa takjub. Dia memberi kita hidup. Kebanyakan dari kita hanya memberi perhatian yang sangat sedikit kepadanya, terlebih dalam mendidik anak-anak di lingkup sekolah. Prinsip pedagogi represif dengan menekankan pola kaku, dogmatis, brain-washing dan disiplin mental yang keras dapat membuat hidup anak menjadi suatu masalah yang serius. Dengan kata lain, kegembiraan para anak didik seakan terlempar jauh dari jiwa humanisme pendidikan itu. Terapi hati menjadi penting dalam proses pembelajaran di sekolah agar penderitaan tidak berkembang dalam diri anak-anak yang didik dalam lingkungan represif tersebut.
Kekerasan di sekolah
Di sekolah, para guru saat mendidik anak-anak untuk meraih ilmu pengetahuan tetapi tanpa hati, maka sikapnya akan menjadi represif terhadap para anak didiknya. Persaingan agresif bisa menuntun pada kekerasan fisik. Kekerasan fisik di sekolah, misalnya tidak hanya dilakukan oleh guru terhadap muridnya, tapi juga oleh murid terhadap gurunya, dan antar sesama murid (dengan istilah: senior dan junior). Padahal kekerasan merupakan salah satu kata yang seharusnya tidak boleh terdengar atau bahkan tidak terjadi di lingkungan sekolah, yang melahirkan generasi muda penerus bangsa yang berbudi pekerti luhur ini.
Secara kuantitatif, kasus kekerasan di sekolah selama ini menduduki peringkat kedua setelah kekerasan di rumah yakni sekitar 25% dari semua kasus-kasus kekerasan yang dilaporkan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) selama tahun 2008 dan 2009 (surabaya.detik.com). Menurut Ketua KPAI, Hadi Supeno, kekerasan terhadap anak di sekolah terjadi karena beberapa sebab. Selain minimnya pengetahuan guru tentang hak-hak anak, juga karena guru yang kurang profesional, miskin metode kreatif sehingga selalu mengambil metode hukuman kekerasan untuk mendisiplinkan murid (detikcom, Senin (2/8/2010).
Dalam pendidikan, ilmu pengetahuan itu memang penting. Namun, pola pendidikan yang tidak kalah pentingnya adalah menerapkan penyembuhan (terapi) hati bagi para anak didik di sekolah.
Terapi hati
Istilah terapi berarti upaya pengobatan, penyembuhan terhadap suatu penyakit atau kelainan yang bersifat bertahap, terus menerus dan pembiasaan. Sedangkan, terapi hati merupakan upaya/usaha proses penyembuhan yang mengarah kepada hati bukan secara fisik (organ hati) tapi esensinya misalnya lewat memberi perhatian, sapaan, senyum, mendengarkan, dan kepekaan. Jadi, sederhananya, terapi hati dalam edukasi berarti upaya penyembuhan hati dari dan lewat pendidikan dengan cara pengajaran, penyuluhan, dan latihan; proses mendidik. Sejalan dengan pengertian di atas, Andreas Harefa pun sepakat bahwa pendidikan seumur hidup (long-life education) berarti menjadi manusia pembelajar berarti belajar terus menerus melalui proses penyadaran, pembelajaran, dan pembiasaan.
Terapi hati: sudut pandang biologi
Dari sudut pandang biologi, proses menerapi hati dimulai dari rasa kagum atas keindahan alam. Dalam pelajaran pun, anak-anak didik diajak memberi perhatian pada alam di lingkungan sekolah. Selain menumbuhkan kecintaan dan rasa damai pada alam, inspirasi kreatif dalam belajar pun bisa lahir dari rasa kekaguman pada keindahan alam. Sebagai contoh, Gede Prama (Kompas, 28/8 2010) menuliskan dengan amat inspiratif tentang kekaguman itu. “Lihatlah alam. Dari bukit sejuk sampai bintang bercahaya di langit. Tidak ada hal lain yang dilakukan mereka terkecuali memberi. Hasilnya tidak terdengar ada bukit yang bertengkar, tidak terdengar ada bintang yang mengeluh. Ujung-ujungnya mereka damai.” Gede Prama meyakini bahwa alam lebih dari sekedar mendamaikan, namun memberikan kemudahan bagi manusia.
Melihat keadaan zaman yang berubah dengan cepat, alam tidak lagi dikagumi tetapi sudah berangsur hilang dengan terjadi eksploitasi dan penjarahan besar-besaran terhadap kekayaan alam di suatu wilayah tanpa memperhitungkan kesejahteraan masyarakat setempat (misalnya: kasus Free Port di Papua). Demi kepentingan pribadi dan materi, alam tidak lagi menjadi dijadikan upaya terapi hati. Kesengsaraan orang lain dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Hilang discernment atau pengetahuan baik dan buruk, benar dan salah karena didesak kebutuhan sehingga menghalalkan segala cara sampai membunuh orang, dan ketidaktahuan karena tidak dididik atau diperkenalkan dengan pengetahuan tersebut.
Sejalan dengan itu, gagasan Fransisco Varela tentang the biology of compassion (kasih sayang menyembuhkan) bisa menjadi terapi untuk mengatasi terjadinya pola akut situasi alam yang represif. Varela yakin bahwa sikap memberi adalah upaya menyembuhkan. Dalam buku The Embodied Mind: Cognitive Science and Human Experience (1993), Varela berupaya memperkaya ide the biology of compassionnya dengan memadukannya dengan ajaran Budha dan pelayanan Bunda Teresa. Ia menuliskan sebagai berikut, “Dan bagi siapa saja yang sudah terbiasa memberi akan mengerti, ketika memberi sejatinya manusia tidak hanya membantu, melainkan juga membangunkan sifat-sifat baik dalam diri, contohnya adalah pelayanan Bunda Teresa kepada orang miskin, meski kadang hanya menemani saat ajal.”
Kesimpulan
Pendidikan lebih dari sekadar memisahkan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk meraih tujuan yang sempit. la juga membuka mata seorang anak bagi kebutuhan dan hak-hak sesamanya. Anak-anak didik seyogianya untuk membangun rasa simpati yang wajar supaya terhadap alam. Mereka diajak memiliki rasa tanggung jawab terhadap sesama. Karena inilah yang sebenarnya mencetuskan tindakan kita. Memang, kalau kita harus memilih antara pengetahuan dan kebajikan, maka yang terakhir itu lebih bernilai. Hati yang baik, yang merupakan buah dari kebajikan, adalah manfaat yang besar bagi kemanusiaan. Hanya ilmu pengetahuan semata, tidaklah bermanfaat.
Kepedulian terhadap sesama dipelajari bukan dari kata-kata melainkan dari aksi/tindakan: panutan yang kita peragakan. Jadi, lingkungan yang edukatif itu sendiri menjadi komponen yang sangat vital dalam pendidikan anak-anak. Jika rasa peduli dan kasih sayang absen dari sekolah maka dapat dipastikan akan ada dampak yang merugikan. Anak-anak didik cenderung merasa tak berdaya dan tidak aman, dan pikirannya sering tersiksa. Sebaliknya, apabila anak-anak menerima kasih sayang yang menyembuhkan (the biology of compassion) dan perlindungan, mereka cenderung untuk menjadi kian bahagia dan lebih percaya diri mencapai keinginan dan harapannya di masa depan.
Sumber Bacaan:
Varela, Fransisco. 1993. “The Embodied Mind: Cognitive Science and Human Experience”. USA: Massachusetts Institute of Technology
Gede Prama. Kompas, 28/8 2010
Hadi Supeno dalam detikcom diakses, Senin (2/8/2010)
Http://surabaya.detik.com/read/2010/08/02/181027/1411994/475/kpai-kekerasan-di-sekolah-karena-guru-tak-profesional
Sobat bisa bergabung dan berinteraksi dalam acara ini melalui: YM, Telpon online dan SMS online.
sobat juga bisa menanyakan hal-hal seputar materi ini melalui coment yang ada dibawah ini maupun melalui facebook kami.




[...] Pendidikan bersama team Seminari Garum pada tanggal 23 September’10 mengambil tema Terapi Hati dalam Edukasi. Sebagai nara sumber ada bapak Andri F. Gultom dan ibu Johana Rosalina. Bpk. Andri F. Gultom dan [...]
nice post
[Reply]
Admin Reply:
October 28th, 2010 at 10:36 pm
Terimakasih Santi. Semoga bermanfaat.
[Reply]