RADIO HARMONI FM

  • Shoutbox


    Loading

    WP Shoutbox
    Name
    Website
    Message
    Smile
    :mrgreen::neutral::twisted::arrow::shock::smile::???::cool::evil::grin::idea::oops::razz::roll::wink::cry::eek::lol::mad::sad:8-)8-O:-(:-):-?:-D:-P:-o:-x:-|;-)8)8O:(:):?:D:P:o:x:|;):!::?:
  • Recent Comments

  • FACEBOOK

Resensi: Gereja di tengah-tengah perubahan dunia

Posted by Admin On September - 24 - 2010
Sudah dibaca :9020

Judul buku      : Gereja di tengah-tengah perubahan dunia

Pengarang       : Makmur Halim

Gereja dan Informasi

Ringkasan isi:

Penulis ingin menjabarkan bahwa pada zaman ini Gereja berada di tengah-tengah perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat. Perkembangan tersebut terjadi di seluruh penjuru dunia. Teknologi informasi seolah-olah telah menjadikan dunia tidak dibatasi oleh jarak dan waktu. Dengan perkembangan teknologi, segala berita dan informasi dapat disebarkan atau pun diakses di manapun dan kapan pun.

Gereja yang berada di tengah-tengah kondisi seperti ini harus meresponinya. Kondisi ini menjadi tantangan pelayanan Gereja untuk mempergunakan teknologi sebagai sarana pelayanan kepada masyarakat luas. Belajar dari Alkitab, kecepatan informasi sangat penting sekali dalam sebuah pelayanan seperti yang pernah dialami nabi Elia dan Filipus. Demikian pula Gereja sekarang perlu menggunakan teknologi informasi untuk mendapatkan dan menyalurkan informasi-informasi yang rohani bagi masyarakat luas.

Ketika gereja barat telah lebih dulu mempergunakan teknologi untuk menjangkau masyarakat luas, Gereja di Indonesia belum maksimal dalam mempergunakan teknologi informasi. Namun demikian teknologi bukanlah segala-galanya, teknologi hanya sebatas sarana. Gereja yang sesungguhnya adalah jawaban bagi kebutuhan masyarakat luas dan melalui sarana teknologi Gereja harus lebih dekat dan efektif dalam memberitakan Injil pada masyarakat luas.

Gereja yang menempatkan dirinya di tengah-tengah perubahan yang secara horizontal dalam hubungannya dengan sarana-sarana informasi akan selalu membawa dampak untuk memberikan pelayanan dan pendekatan Injil yang kontekstual. Oleh sebab itu dengan memberi informasi yang positif maka Gereja juga membendung pengaruh negatif dari teknologi informasi. Hal ini terjadi karena Gereja memberikan alternatif baru diantara informasi-informasi sekuler yang dapat dipilih oleh para pengakses informasi.

Penilaian Kontekstual : Relevansinya dengan konteks Indonesia :

Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia perlu mengikuti perkembangan teknologi informasi. Hal ini penting karena ; Pertama. Indonesia tidak bisa terlepas dari perkembangan zaman yang sedang berjalan terus, kedua. Indonesia sendiri harus berkembang dalam hal teknologi jika tidak ingin tertinggal dari negara-negara lain. Bagi Gereja di Indonesia, perkembangan teknologi informasi adalah salah satu terobosan yang dapat digunakan untuk pengembangan pelayanan secara global. Dengan menggunakan internet, Gereja dapat mengakses segala informasi berkaitan dengan perkembangan pelayanan lokal maupun internasional, sebaliknya Gereja juga dapat memberikan informasi balik mengenai keadaan Gereja, dan pelayanan yang sedang dikerjakan bagi setiap orang yang mengaksesnya.

Salah satu contoh penggunaan teknologi internet adalah usaha Gereja Indonesia dalam memperkenalkan budaya Indonesia sebagai ladang misi yang menantang bagi para misonaris lokal maupun internasional. Dalam hal ini penggunaan internet sangat efektif karena data yang tersedia dapat diakses oleh siapapun, kapanpun dan di manapun.  Masih banyak hal yang dapat dilakukan dengan internet. Jumlah Gereja di Indonesia yang mencapai angka ribuan juga dapat mempergunakan fasilitas internet sebagai sarana pemersatu. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat website/homepage bersama sebagai jaringan/atau persekutuan antar Gereja di cyberworld (contoh : website yang dimiliki PGI, DGI, bamag wilayah, dll.).

Dilihat dari perkembangan masyarakat Indonesia saat ini, penggunaan internet sebagai sarana pelayanan kepada mayarakat merupakan metode baru yang patut dikembangkan. Hal ini cukup beralasan karena seiring berjalannya waktu,  animo masyarakat terhadap penggunaan internet semakin berkembang. Pengguna internet yang beragam dari orang dewasa sampai anak-anak juga menjadi alasan untuk menggunakan sarana internet sebagai sarana pelayanan. Selain itu dengan menggunakan sarana internet, Gereja dapat bebas mengekspresikan pemberitaan Injil tanpa harus takut ditolak. Isi dan design yang menarik dapat digunakan untuk menarik para netter agar mau masuk dan menikmati pelayanan Gereja terutama pelayanan dalam pemberitaan injil.

Uraian yang diberikan penulis dalam buku ini relevan bagi pertumbuhan Gereja di Indonesia untuk masa yang akan datang. Gereja yang berada di tengah negara berkembang seharusnya mulai berfikir untuk memaksimalkan penggunaan sarana teknologi dalam pelayanannya kepada masyarakat. Dengan menggunakan fasilitas internet Gereja dapat mengenalkan diri dan dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat. Hal ini merupakan salah satu usaha untuk menghilangkan kesan bahwa Gereja adalah lembaga yang eksklusif dan terpisah dari yang lain.

Penggunaan internet sebagai media pelayanan bukan berarti tidak menemui kendala. Indonesia yang berstatus sebagai negara berkembang mempunyai masalah dalam pemerataan teknologi. Menurut beberapa sumber, penduduk Indonesia yang menggunakan layanan internet hanya 10% dari total jumlah penduduk indonesia. Walaupun animo masa semakin meningkat namun, jumlah pengguna internet masih sangat kecil dibanding dengan jumlah penduduk yang ada.  Hal inilah yang menjadi kendala Gereja dalam pemanfaatan teknologi. Selain itu Gereja di Indonesia yang dapat mempergunakan teknologi informasi masih bisa dihitung dengan jari. Gereja–Gereja yang mempergunakan fasilitas tersebut mayoritas berada di kota-kota besar yang prasarananya sudah mendukung (misal : adanya jaringan telepon, adanya sarana satelit, kabelvision, dll.). Sedangkan Gereja yang berada di daerah terpencil akan menemui kesulitan untuk bisa menikmati fasilitas teknologi tersebut. Bahkan masih banyak Gereja yang berada di daerah mungkin tidak tahu menahu dengan teknologi tersebut.

Beberapa faktor yang menjadi kendala Gereja Indonesia untuk dapat mempergunakan teknologi adalah :

1.                         Minimnya SDM di dalam lingkungan Gereja yang sanggup mempergunakan teknologi sebagai sarana pelayanan.

2.                         Minimnya prasarana teknologi yang dimiliki Gereja untuk dapat ambil bagian dalam pemanfaatan teknologi.

3.                         Masih banyak Gereja-Gereja yang berada di pedalaman sehingga teknologi belum sampai ke daerah tersebut.

4.                         Kurangnya animo jemaat dalam hal teknologi sehingga kalaupun ada prasarana, mereka masih malas untuk menggunakanya.

Memang teknologi seperti yang dipaparkan dalam buku ini sangat membantu dalam pelayanan sehingga banyak hal yang dapat dilakukan oleh Gereja dalam menjangkau masyarakat. Namun dalam konteks Indonesia saat ini, pemanfaatan teknologi internet kurang efektif dalam hal  pelaksanaannya. Ada banyak hal yang masih perlu dikembangkan oleh Gereja dalam memasuki era dunia yang serba komputerisasi. Gereja harus mempersiapkan jemaat yang mengerti perubahan adalah unsur normal dalam kehidupan, jemaat yang dapat mengambil faedah dari perubahan dan tidak menjadi korban perubahan melainkan jemaat harus bisa mengubah masyarakat dan dunianya sesuai dengan nilai-nilai Alkitab. Oleh sebab itu relevansi pembahasan dalam buku mengenai perkembangan teknologi dengan Gereja di Indonesia bisa saja terlaksana untuk beberapa Gereja tetapi tidak untuk semua Gereja. Masih membutuhkan waktu yang lama untuk dapat menerapkan teknologi internet bagi Gereja-Gereja di Indonesia.

Di Indonesia masih banyak Gereja yang sama sekali nol dalam hal teknologi internet. Namun hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk Gereja berhenti berkembang dalam pelayanan, khususnya pemberitaan Injil bagi seluruh umat manusia. Gereja harus tetap bertanggung jawab dengan pemberitaan Injil meskipun hanya ada sarana yang sederhana. Oleh sebab itu Gereja-gereja yang sudah bisa merasakan fasilitas teknologi seharusnya semakin giat dalam memberitakan Injil dengan fasilitas yang ada. Fasilitas yang ada sekarang merupakan berkat Tuhan atau sarana yang diberikan oleh Allah untuk Gereja yang tidak dapat diabaikan.

Relevansi yang bersifat universal dari pembahasan buku ini adalah : Gereja harus bisa menempatkan diri sebagai jawaban atas segala kebutuhan-kebutuhan jemaat dan lingkungan sekitarnya. Gereja tidak boleh menutup diri dengan keberadaan lingkungan sekitar. Jika memang teknologi itu sudah ada dan siap untuk membantu pemberitaan Injil maka, Gereja harus mempergunakannya dengan baik dan bijak.

Kesesuaian dengan Alkitab :

Sebagai kumpulan orang-orang yang dipanggil oleh Allah, Gereja mempunyai tugas utama untuk memberitakan Injil. Seperti Amanat Agung Yesus yang terdapat dalam Matius 28:18-20, penginjilan harus dikerjakan oleh seluruh anggota Gereja untuk menjangkau seluruh umat manusia yang ada di bumi. Amanat ini berlaku dan tetap mengikat gereja untuk melaksanakan pelayanan sepanjang zaman.

Di dalam Alkitab tidak dicatat seberapa jauh Gereja harus membatasi diri dalam memanfaatkan sarana untuk memberitakan Injil. Alkitab hanya mencatat bahwa Gereja harus bertanggung jawab atas pemberitaan Injil kepada seluruh umat manusia. Berkaitan dengan teknologi, Alkitab hanya mencatat bahwa dengan adanya sarana transportasi,  Injil dapat diberitakan dengan mudah dan cepat. Pada prinsipnya sama, berita Injil akan cepat tersebar dengan adanya sarana penunjang. Sebagai contoh adalah kisah  Yesus ketika hadir di dunia ini. Tuhan telah menyiapkan pemerintahan Romawi yang membangun sarana informasi dan transportasi maju sehingga  Injil dapat dengan mudah tersebar secara luas. Contoh lain adalah kisah rasul Paulus dalam perjalanan misinya. Dalam menjalankan misinya ke berbagai pulau untuk memberitakan Injil,  Paulus telah menggunakan  sarana transportasi laut yang efektif. Hal itu membuktikan bahwa Alkitab mencatat penggunaan sarana untuk pemberitaan Injil meskipun sarana tersebut tidak secanggih sekarang.

Tuhan senantiasa memberikan sesuatu yang baru dalam kehidupan manusia. Internet adalah sarana yang Tuhan berikan untuk Gereja dapat memberitakan Injil kepada masyarakat di era modern. Gereja yang berada di tengah arus perkembangan dunia harus cerdik dalam mengambil tindakan yang tepat agar Gereja tetap bisa diterima oleh masyarakat. Kontekstualisasi melalui sarana internet merupakan salah satu alternatif yang dilakukan Gereja pada zaman sekarang ini. Dengan internet Gereja dapat menghadirkan keberadaannya ditengah orang-orang yang berpola pikir postmodern[1].

Seperti sarana-sarana sederhana yang sudah pernah Tuhan berikan pada zaman rasul-rasul, maka sarana yang ada sekarang harus diefektifkan. Gereja yang bertanggung-jawab membawa orang-orang belum percaya kembali kepada Allah harus berhikmat dalam menggunakan fasilitas yang ada. Jika salah satu bagian buku ini mengulas tentang penggunaan fasilitas internet untuk memberitakan Injil maka, hal ini adalah kemajuan yang pesat dalam proyek penginjilan. Menurut pengkritisi sarana tersebut sah-sah saja digunakan oleh Gereja selama itu menunjang dan efektif bagi pelayanan. Penggunaan internet yang bisa membawa Gereja lebih dekat dengan masyarakat sehingga pemberitaan Injil dapat terlaksana dengan efektif adalah tindakan yang tidak melanggar Alkitab. Justru kreatif umat Allah dalam memberitakan Injil harus semakin dikembangkan.

Salah satu keuntungan dari penggunaan internet adalah sarana internet dapat digunakan sebagai jembatan pemebritaan injil di tengah-tengah zaman postmodernism. Dalam hal ini Gereja ditantang untuk menyadari interaksi antara iman dan fasilitas sekuler yang tidak pernah dapat diabaikan karena merupakan kenyataan konteks yang berlaku bagi pelayanan. Belajar dari Alkitab, kontekstualisasi adalah salah satu metode yang sering digunakan dalam memberitakan Injil. Yesus pernah menggunakan metode kontekstualisasi pada saat IA memberitakan kabar sukacita dengan menggunakan pendekatan budaya setempat sebagai jembatan Injil (bdn: perumpamaan-perumpamaan yang digunakan Yesus).

Ketika Gereja sudah memiliki jaringan internet satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah tugas Gereja sebagai terang dan garam dunia. Gereja tidak boleh menggunakan internet sebagai sarana untuk mencari keuntungan demi kelompok Gereja tertentu. Gereja harus tetap pada garis awal yaitu memberitakan Injil bagi sebanyak-banyaknya orang melalui internet (bdn Mrk 13:10). Karena itu Alkitab melihat perlunya Gereja untuk bijaksana dalam menggunakan fasilitas ini.

Proses komunikasi bersifat dinamis bukan statis. Untuk memahami apa yang terjadi dalam peristiwa komunikasi, seseorang yang melakukan komunikasi harus ‘memasuki’ konteksnya, memahami pandangan dunia dan mengerti tiap segi dari peristiwa komunikasi yang dipermasalahkan. Oleh sebab itu pada konteks zaman sekarang Gereja harus peka dengan perkembangan apapun yang ada di sekitar Gereja dan Gereja berani menampilkan dirinya di tengah-tengah masyarakat sebagai jawaban atas permasalahan yang ada. Namun demikian usaha apapun yang dilakukan Gereja, Gereja harus tetap berdiri dan berdasar pada kebenaran Alkitab.


[1] Era yang ditandai dengan pola pikr individualisme tinggi, menganggap tidak ada kebenaran mutlak, rasionalistis, dan kecenderungan orang untuk mendapat sesuatu dengan instant.

Masukkan Email Anda:

2 Responses to “Resensi: Gereja di tengah-tengah perubahan dunia”

  1. bulan says:

    makasih materi ini yang saya perlukan dalam pembinaan anak taruna di gereja saya mereka sekarang gndrung memakai internet , hp alat teknologi..tp sayang mencari info tg hal yg berkaitan dgn alkitabnya belum mereka pergunakan..salam

    [Reply]

    Admin Reply:

    Trimakasih sobat Bulan, salam buat anak-anak taruna dan pemuda remaja di tempat sobat melayani. Jangan lupa untuk memberitahu sobat lainnya untuk mendengarkan radio Harmoni melalui internet.Gbu.

    [Reply]

Leave a Reply

Jika Anda menghakimi orang, Anda tidak akan memiliki waktu untuk mengasihi mereka. - Bunda Teresa -