• REQUEST ONLINE

    Request pujian atau mengirimkan salam melalui Yahoo

  • DOWNLOAD APLIKASI

  • Streaming didukung oleh:



  • Kategori

  • Shoutbox


    Loading

    WP Shoutbox
    Name
    Website
    Message
    Smile
    :mrgreen::neutral::twisted::arrow::shock::smile::???::cool::evil::grin::idea::oops::razz::roll::wink::cry::eek::lol::mad::sad:8-)8-O:-(:-):-?:-D:-P:-o:-x:-|;-)8)8O:(:):?:D:P:o:x:|;):!::?:
  • FACEBOOK

  • TERBARU

Alban

Posted by Admin On October - 25 - 2010ADD COMMENTS
Sudah dibaca :1962

Alban.

Martir Inggris pertama

Dalam sejarah kerajaan Roma, salah satu penganiayaan terburuk atas orang-orang Kristen terjadi pada masa Dioklesia (284-305). Keinginannya untuk mengembalikan agama berhala Romawi menyebabkan terjadinya penganiayaan besar-besaran terhadap orang-orang Kristen. Inilah penganiayaan terbesar dan yang terakhir di masa kerajaan Roma. Read the rest of this entry »

Aurelius Augustinus

Posted by Admin On September - 25 - 2010ADD COMMENTS
Sudah dibaca :4517

Aurelius Augustinus

Ia merupakan seorang bapa gereja yang pandangan-pandangan teologianya sangat berpengaruh dalam Gereja Barat. Dilahirkan di Tagaste, Afrika Utara, tidak jauh dari Hippo Regius pada 13 Nopember 354. Ayahnya bernama Patricius, seorang kafir dan ibunya bernama Monica, seorang ibu yang saleh dan yang penuh kasih. Augustinus lama menjadi anggota katekumen, namun tidak bersedia untuk segera menerima sakramen baptisan. Ia memulai pendidikannya di kota kelahirannya, Tagaste, kemudian belajar retorika dan filsafat di Kartago, ibukota provinsi Afrika Utara. Setelah belajar di Kartago, Augustinus kembali ke kota kelahirannya dan di sana ia menjadi guru retorika. Pada tahun 372 ia pindah ke Kartago dan menjadi guru retorika di sana.

Augustinus mengalami pergumulan yang hebat, yaitu keinginannya untuk mencari kebenaran yang sejati yang memberikan kepadanya suatu kedamaian hidup. Seluruh perjuangannya dalam mencari kebenaran tersebut diuraikannya dalam bukunya yang berjudul Confessiones (Pengakuan-Pengakuan). Kira-kira tahun 373 ia membaca buku Hortensius, karangan Cicero, yang membawanya menjadi seorang pengikut Platonisme. Namun, Platonisme tidak memberikan kepadanya kedamaian sehingga ia berpindah lagi menjadi pengikut Manikheisme. Sementara itu, Augustinus memelihara seorang wanita dan dari wanita ini lahir seorang anak laki-laki yang diberinya nama, Adeodatus. Hubungannya dengan wanita ini berlangsung selama lima belas tahun lamanya.

Ibunya, Monica, sangat sedih karena kelakuan anaknya itu. Ia senantiasa berdoa dengan bercucuran air mata agar anaknya ini bertobat dari jalan yang sesat itu. Monica berkali-kali mengunjungi uskupnya untuk meminta nasihatnya. Sang uskup menghibur Monica dengan kata-kata, “Anak yang didoakan dengan banyak air mata, mustahil ia binasa.”

Tahun 382, Augustinus berangkat ke Roma. Di sini ia membuka sekolah retorika, namun sekolahnya itu dipindahkan ke Milano. Di Milano ia meninggalkan Manikheisme dan berpindah sebagai seorang pengikut Neo-Platonisme. Kemudian ibunya juga datang ke Milano.

Augustinus sama sekali tidak tertarik kepada Alkitab. la menganggap bahasa yang dipergunakan oleh Alkitab sangat kasar dan rendah mutunya. Banyak hal-hal yang tidak masuk akal dan aneh.

Di Milano terdapat seorang uskup yang sangat cakap dalam berkhotbah dengan mempergunakan bahasa yang menarik hati. Uskup itu adalah Ambrosius. Augustinus ingin berkenalan dengan sang uskup dan sering masuk gereja untuk mendengarkan khotbah-khotbahnya. Dari khotbah-khotbah Ambrosius, Augustinus kini melihat keindahan dalam Kitab Suci. Ia kini menemukan jawaban-jawaban yang memuaskan hatinya.

Pada tahun 386 Augustinus sedang duduk dalam taman di rumahnya. Tiba-tiba ia mendengar suara anak kecil yang sedang bermain di taman mengatakan, “Ambillah dan bacalah!” Suara hatinya mengatakan bahwa yang disuruh ambil dan baca tidak lain daripada Alkitab. Ia mengambil dan membukanya. Augustinus membaca Roma 13:13-14, “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” Augustinus yakin bahwa itulah suara Roh Kudus sehingga ia mengalami pertobatan. Menjelang Augustinus dibaptis, pada hari Minggu Paskah 387 di Milano, ia bersama ibunya, Adeodatus, dengan beberapa sahabatnya bersemedi di Cassaciacum, dekat Milano. Ibunya sangat bergembira dengan pertobatan anaknya itu. Maka Augustinus pun dibaptis oleh Uskup Ambrosius bersama-sama dengan anaknya, Adeodatus, dan beserta dengan sahabatnya, Alypius, dan Evodius.

Sesudah pertobatan dan baptisannya, Augustinus memutuskan hubungannya dengan dunia. Harta miliknya dijualnya dan dibagi-bagikannya kepada orang-orang miskin. Ia ingin melayani Kristus sampai dengan ajalnya.

Kemudian Augustinus bersama-sama anak dan ibunya bersiap-siap untuk kembali ke Afrika. Sayang ibunya meninggal dunia di kota pelabuhan Ostia sementara menunggu kapal yang akan membawa mereka ke negerinya. Augustinus menguburkan ibu kekasihnya di Ostia sesuai dengan permintaan Monica menjelang kematiannya, sebagai berikut. “Kuburkanlah aku di mana saja dan janganlah dirimu susah karenanya; hanya satu perkara aku mohon, yaitu doakanlah aku di altar Allah di mana pun engkau berada”. Augustinus bersama Adeodatus berserta kedua temannya berangkat ke Tagaste.

Cita-cita Augustinus sekarang adalah hidup sebagai seorang biarawan. Tahun 388 ia bersama dengan Alypius dan Evodius membentuk suatu semibiara di Tagaste. Anaknya, Adeodatus, meninggal dunia di Tagaste pada tahun 390.

Pada tahun 391 Augustinus berkunjung ke Hippo Regius. Umat di Hippo Regius meminta agar Augustinus ditahbiskan menjadi presbiter untuk membantu Uskup Valerius yang sulit berkhotbah dalam bahasa Latin. Tahun 396 Uskup Valerius meninggal dan Augustinus ditahbiskan sebagai uskup Hippo Regius pengganti Valerius. Cita-citanya untuk hidup dengan damai dalam biara terpaksa ditinggalkannya. Ia menjadi uskup Hippo Regius sampai dengan meninggalnya pada 28 Agustus 430, ketika suku-suku bangsa Vandal mengepung kota Hippo Regius.

Augustinus adalah seorang teolog besar dalam sejarah gereja. Ia adalah murid Paulus. Ia banyak menulis yang di dalamnya kita dapat menimba pandangan teologianya. Ia juga seorang yang dikenal sebagai penentang penyesat-penyesat yang gigih. Perlawanannya dengan Donatisme menyebabkan ia menguraikan pandangannya tentang gereja dan sakramen. Baginya, gereja bukanlah persekutuan yang inklusif, yaitu yang hanya terdiri dari orang-orang suci. Gereja adalah kudus pada dirinya sendiri dan bukan karena kekudusan (kesucian) anggota-anggotanya. Di dalam gereja terdapat orang-orang yang baik dan orang-orang yang jahat. Di luar gereja juga terdapat pula orang-orang yang baik. Tampaknya Augustinus berpendapat bahwa orang-orang baik yang berada di luar gereja akan menjadi anggota gereja sebelum mereka meninggal.

Mengenai sakramen, Augustinus berpendapat bahwa sahnya sakramen bukanlah bergantung kepada kesucian orang yang melayankan sakramen tetapi bergantung kepada Kristus sendiri. Pelayan sakramen hanyalah alat dari Kristus. Itulah sebabnya, maka Augustinus menerima sakramen baptisan yang dilaksanakan oleh golongan yang memisahkan diri sebagai sakramen yang sah. Jikalau ada orang Donatisme yang kembali kepada gereja yang resmi, mereka tidak perlu dibaptiskan kembali.

Dalam perlawanannya dengan ajaran Pelagius, ia melahirkan pandangan teologianya tentang kehendak bebas, dosa turunan, dan rahmat. Ia mengajarkan bahwa manusia diciptakan Tuhan Allah dengan karunia-karunia adikodrati. Karunia-karunia ini hilang pada waktu Adam jatuh ke dalam dosa. Kehendak bebas hilang dan Adam serta keturunannya takluk di bawah dosa. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Manusia hanya dapat diselamatkan karena rahmat Allah semata-mata. Sesudah Adam jatuh ke dalam dosa, seluruh manusia berada dalam keadaan tidak mungkin tidak berdosa. Allah akan memilih orang-orang yang akan menerima karunia-Nya. Nampaknya di sini Augustinus mengajarkan ajaran predestinasi, ajaran yang kemudian dikembangkan oleh Calvin abad ke-16 dan Jansen pada abad ke-18.

Sepanjang hidupnya Augustinus banyak menulis. Tulisannya yang berjudul Confessiones ditulisnya sebelum tahun 400. Di dalamnya diceritakan riwayat hidup sampai pertobatannya. Karya besarnya yang lain adalah De Civitate Dei (Kota Allah) dan De Trinitate (Trinitas). De Civitate Dei terdiri dari 22 buku. Sepuluh buku pertama menguraikan tentang iman Kristen. Dua belas buku berikutnya menguraikan tentang perjuangan kota Allah (Civitas Dei) dengan kota dunia (Civitas Terrena). Kota Allah akan mengalahkan kota dunia. Yang dimaksudkan dengan Kota Allah adalah gereja dan Kota Dunia adalah kerajaan-kerajaan dunia ini, khususnya kekaisaran Roma. De Trinitate terdiri dari lima belas buku. Sebagian besar merupakan kumpulan surat-surat, khotbah-khotbah, dan suatu kumpulan dialog filosofis. Tidak lama sebelum kematiannya ia menerbitkan bukunya yang berjudul Retractations, di mana ia meninjau kembali karya literernya.

Diambil dan diedit seperlunya dari:

Judul artikel : Augustinus, Aurelius
Judul buku : Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta 1999
Penulis : Drs.F.D. Wellem, M.Th.
Halaman : 30 — 33

Sumber: Bio-Kristi 1

Athanasius

Posted by Admin On September - 25 - 2010ADD COMMENTS
Sudah dibaca :1460

Athanasius

Athanasius lahir pada akhir abad ke-3. Ia bergabung pada rumah tangga Aleksander, uskup Aleksandria, dan selang beberapa waktu menjadi diaken. Ia ikut uskup Aleksander ke Konsili Nicea. Ketika Aleksander meninggal pada tahun 328, Athanasius menggantikannya sebagai uskup Aleksandria. Ia memangku jabatan ini selama 45 tahun dan meninggal pada tahun 373.
Hampir seluruh hidup Athanasius diabdikan untuk melawan Arianisme. Arius telah dikutuk di Nicea, tetapi Pengakuan Iman Nicea tidak dapat diterima oleh bagian terbesar dari kelompok Origenes di Timur. Kaisar menginginkan persatuan di atas segala yang lain. Jadi, ia menganjurkan sikap toleransi lebih besar tentang ortodoksi sehingga Arius dapat diajak kembali ke dalam persekutuan gereja setelah mendapat hukuman seperlunya. Athanasius menolak sikap ini. Ia melihat keallahan Yesus Kristus sebagai dasar seluruh iman Kristen. Arianisme akan mengakibatkan tamatnya agama Kristen. Athanasius memerangi Arianisme dengan senjata apa pun yang jatuh ke tangannya, termasuk politik gerejawi. Sikapnya yang tidak main kompromi membuatnya tidak disenangi baik di antara uskup maupun negarawan. Dari 45 tahun sebagai uskup, 17 tahun di antaranya dihabiskan di lima tempat pengasingan yang berlainan. Masa pengasingan yang paling penting adalah waktu ia di Roma dari tahun 340 sampai 346. Ini adalah saat untuk saling memengaruhi antara Athanasius dan tuan rumah. Sesudah Roma, ia mengalami “Dasawarsa Emas”, dari tahun 346 hingga 356 di Aleksandria, masa terpanjang sebagai uskup tanpa interupsi.

Athanasius tetap tegar dalam pendiriannya, walaupun mereka di sekitarnya mulai melemah. Biarpun demikian, ia tahu saatnya bersikap fleksibel. Kelompok anti-Arianisme (Gereja Barat, kelompok Antiokhia dan Athanasius) berpendapat bahwa Allah adalah satu hypostasis atau pribadi, sedangkan bagian terbesar kelompok Origenis di bagian Timur berpendapat bahwa Allah terdiri dari tiga pribadi. Pada Konsili Aleksandria tahun 362 (diadakan dalam waktu singkat antara dua masa pengasingannya), diakui bahwa kedua rumusan dapat diinterpretasikan secara ortodoks. Yang terpenting adalah apa yang dipercaya, pengalimatannya kurang penting. Pengakuan ini melicinkan jalan kepada kombinasi pandangan homoousios Nicea (Anak Allah adalah sehakikat dengan Sang Bapa) dan pernyataan Origenes bahwa Allah adalah tiga hypostasis. Versi kombinasi ini disebarkan oleh Bapa-bapa Kapadokia dan diterima sebagai ortodoks yang tetap pada Konsili Konstantinopel tahun 381.

Athanasius adalah seorang penulis yang produktif, yang membahas berbagai soal.

  • Karya-karya anti-Arianisme. Kebanyakan karya Athanasius membahas perjuangan melawan Arianisme. Ia memanfaatkan waktu luangnya di pengasingan. Yang paling dikenal adalah karyanya yang terpanjang, 3 Orationes Contra Arianos (Pidato-pidato Melawan Kaum Arian).
  • Karya-karya apologia. Athanasius menulis apologia dalam dua bagian: Oratio Contra Gentes (Melawan Orang Kafir) dan De Incarnatione Verbi (Inkarnasi Firman). Menurut tradisi, karya ini dianggap ditulis pada tahun 318, yaitu sebelum kontroversi Arianisme. Namun, bukti-bukti agaknya lebih condong pada suatu tanggal selama pengasingan pertamanya antara tahun 335 dan 337.
  • Surat-surat Paskah. Setiap tahun Athanasius menulis surat kepada gereja-gereja di Mesir, yang nantinya dibaca pada hari Paskah. Suratnya yang ke-367 itu penting karena di dalamnya untuk pertama kali dimuat kanon (daftar kitab-kitab) Perjanjian Baru, tepat seperti yang kita kenal sekarang. Ini merupakan hasil dari masa saling mempengaruhi waktu Athanasius di Roma.
  • Vita S. Antonii (Riwayat Hidup Antonius), yang oleh Athanasius digambarkan sebagai rahib pertama. Pada abad ke-2 dan ke-3 ada orang yang hidup sebagai pertapa — tidak menikah, hidup dalam kemiskinan dan mengabdikan diri dengan berdoa dan berpuasa. Mereka tetap hidup di antara jemaat biasa dan disebut “pertapa dalam rumah” karena mereka menjalankan hidup mereka sebagai pertapa di rumah dan di dalam masyarakat. Namun pada abad ke-4, tingkat moral jemaat semakin menurun karena bertambah banyaknya jumlah orang kafir yang bertobat dan sifat pertobatan mereka dangkal dan kurang serius. Karena itu, orang pertapa mulai mengundurkan diri dari masyarakat. Mereka pergi hidup di gurun-gurun Mesir dan Siria. Seperti ditulis Athanasius, “Sel-sel muncul sampai di pegunungan dan gurun-gurun dikolonisasi oleh para rahib. Mereka datang keluar dari bangsa mereka untuk mendaftarkan diri sebagai warga surga.” Di antara rahib-rahib ini ada yang hidup menyendiri (seperti Antonius) di tempat terpencil, ada yang hidup berkelompok. Ada lagi yang memilih hidup semacam kombinasi dari kedua cara hidup tersebut tadi. Karya Athanasius membantu menyebarkan cita-cita hidup kebiaraan, khususnya di dunia Barat. Ia mempunyai peranan penting dalam pertobatan Augustinus.

Athanasius berjuang begitu keras untuk pengakuan keallahan Yesus Kristus karena ia melihat bahwa keselamatan kita bergantung pada-Nya. Hanya Yesus Kristus yang ilahi, yang dapat menyelamatkan kita. Tema ini dibahas dalam buku De Incarnatione Verbi. Athanasius dihadapkan pada tuduhan-tuduhan dari pihak Yahudi dan kafir, bahwa inkarnasi dan penyaliban Anak Allah tidak pantas dan mengurangi martabat-Nya. Athanasius menjawab bahwa inkarnasi dan salib justru pantas, tepat, dan sangat wajar. Sebab dunia yang diciptakan melalui Dia hanya dapat dipulihkan oleh Dia. Pemulihan ini tidak bisa terjadi, kecuali melalui salib.

Kitalah yang menyebabkan Ia menjadi daging. Ia mengasihi kita sedemikian rupa untuk keselamatan kita, Ia lahir sebagai manusia …. Hanya Sang Penebus sendiri, yang pada permulaan menciptakan segala sesuatu dari yang tidak ada, dapat mengembalikan yang bejat menjadi tidak binasa; tidak ada yang dapat menciptakan kembali orang-orang dalam rupa Allah, kecuali rupa Allah itu sendiri. Tidak lain Tuhan kita Yesus Kristus, yang adalah Hidup itu sendiri, yang dapat membuat yang fana menjadi kekal. Tidak satu kecuali firman, yang memerintah segala sesuatu dan yang adalah Anak yang sejati dan tunggal dari Sang Bapa, yang dapat mengajar manusia tentang Sang Bapa dan membinasakan pemujaan berhala. Karena utang yang harus dibayar manusia (karena semua orang harus mati), Ia datang di antara kita. Setelah Ia membuktikan keallahan-Nya melalui karya-Nya, Ia mempersembahkan kurban-Nya demi kita dan menyerahkan bait-Nya (tubuh-Nya) kepada maut menggantikan umat manusia. Ia melakukannya untuk membebaskan manusia dari utang dosa pertama dan untuk membuktikan bahwa Ia lebih berkuasa daripada maut. Ia menunjukkan bahwa tubuh-Nya tidak dapat binasa, sebagai buah sulung kebangkitan semua orang …. Dua mujizat terjadi sekaligus: kematian seluruh umat manusia terlaksana dalam tubuh Tuhan, dan maut serta kebejatan dimusnahkan karena firman yang telah menjadi satu dengan-Nya …. Melalui kematian, kekekalan menjangkau seluruh umat manusia. Karena Firman telah menjadi manusia, maka pemeliharaan kesemestaan bersama pencipta serta pemimpin-Nya, yaitu firman Allah itu sendiri telah diperkenalkan. Ia telah menjadi manusia, agar kita menjadi ilahi; Ia menyatakan diri dalam rupa manusia, agar kita dapat mengerti Sang Bapa yang tak kelihatan itu; Ia menanggung penghinaan orang, agar kita dapat mewarisi hidup yang kekal (De lncarnatione Verbi/Inkarnasi Firman 4, 20, 54).

Gagasan “deifikasi” atau “pendewaan” (menjadi ilahi) menunjukkan pengaruh Yunani dalam pemikiran Athanasius. Pengaruh ini sangat nyata dalam karya apologia, dalam dua bagian, yang bersifat pembelaan itu. Adam, sebelum jatuh dalam dosa, digambarkan sebagai filsuf Yunani — ia merenungkan firman, yang adalah rupa Allah. Jiwanya tidak ada hubungan dengan tubuhnya. Jiwanya mengatasi semua keinginan serta perasaan jasmani dan merenungkan “kenyataan akali”. Tetapi Adam berbalik dari kenyataan akali dan mulai memikirkan tubuhnya serta perasaan-perasaannya dan dengan demikian menjadi mangsa keinginan-keinginan jasmani. Pandangan mengenai kejatuhan manusia ini lebih banyak diambil dari filsafat Yunani dan Origenes daripada dari Alkitab.

Athanasius menggunakan berbagai argumen melawan Arianisme. Argumentasinya terutama didasari pada Alkitab. Ia mengemukakan sejumlah argumen dari Alkitab untuk membuktikan ketuhanan Yesus Kristus. Ia juga menjawab argumen pengikut-pengikut Arius yang diambil dari Alkitab untuk membuktikan bahwa Anak Allah adalah lebih rendah dari Sang Bapa. Athanasius menjawab bahwa bagian Alkitab itu menunjuk pada status Yesus sebagai manusia, bukan pada status kekal-Nya sebagai Allah. Kedua, Athanasius menunjuk ibadah Kristen pada Yesus Kristus baik pada zaman Perjanjian Baru, maupun pada zaman mereka sendiri. Ibadah ini harus diberi arti pemujaan berhala, kalau Yesus hanya suatu makhluk. Ketiga, Athanasius mengemukakan bahwa hanya Allah mampu menyelamatkan kita — argumen ini dipakainya dalam karyanya “De Incarnatione Verbi”. Dan terakhir, ia memakai argumen-argumen filsafat — misalnya, bahwa Allah tidak pernah bertindak tidak rasional tanpa Akal atau firman-Nya.

Sekiranya Ia [Firman] hanya makhluk, orang tidak akan beribadah kepada-Nya dan Ia tidak pula dibicarakan [dalam Alkitab]. Tetapi kenyataannya adalah bahwa Ia adalah turunan sejati dari hakikat Allah yang disembah. Ia adalah Anak Allah menurut tabiat-Nya dan bukan makhluk. Oleh sebab itu, Ia disembah dan diyakini sebagai Allah. Sinar matahari benar bagian dari matahari, toh hakikat matahari tidak terbagi atau dikurangi oleh karenanya. Hakikat matahari adalah lengkap dan sinarnya sempurna dan lengkap. Sinar-sinar itu tidak mengurangi hakikat terang, namun adalah turunannya yang sejati. Demikian pula kita ketahui bahwa Anak diperanakkan bukan di luar Sang Bapa, tetapi dari Allah Bapa sendiri. Allah Bapa tetap lengkap, sedangkan “gambar wujud-Nya” [Ibr. 1:3] adalah kekal serta menjaga persamaan-Nya dengan Allah Bapa dan rupa-Nya yang tak berubah. (3 Orationes Contra Arianos/Pidato-pidato Melawan Kaum Arian 2:24, 33)

Athanasius juga yang pertama-tama secara serius mempelajari status Roh Kudus. Hingga pertengahan abad ke-4 perhatian tertuju pada hubungan Allah, Bapa, dan Anak. Sebutan singkat “Dan kepada Roh Kudus” dalam Pengakuan Iman Nicea adalah bukti betapa sedikit perhatian yang diberikan kepada Roh Kudus. Namun, pada tahun 359/360 Athanasius terpaksa memerhatikan soal ini. Suatu kelompok di Mesir, yang kurang jelas asal mulanya dan disebut Tropici, mengajarkan bahwa Sang Anak adalah Allah, tetapi Roh Kudus diciptakan dari yang tidak ada. Dalam hal Anak, mereka bertolak dari Pengakuan Iman Nicea, sedangkan dalam hal Roh Kudus mereka mengikuti Arianisme. Mereka berselisih dengan uskup mereka, Serapion, yang minta nasihat kepada Athanasius. Athanasius menjawab dalam sejumlah Letters to Serapion (surat-surat kepada Serapion), yang di dalamnya untuk pertama kali dibahas teologi yang sungguh-sungguh memerhatikan Ketritunggalan. Di sana ia merinci baik status Roh Kudus maupun Anak Allah. Ia menjelaskan ketuhanan Roh Kudus, yang bukan Anak Allah tetapi “keluar dari Bapa” (Yoh. 15:26).

Diambil dan diedit seperlunya dari:

Judul buku : Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani
Penulis : Tony Lane
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta 2003
Halaman : 26 — 29

Sumber: Bio-Kristi 6

Ambrosius

Posted by Admin On September - 25 - 2010ADD COMMENTS
Sudah dibaca :2053

Ambrosius

Ambrosius adalah salah seorang Bapa Gereja Barat (Latin) yang terkenal. Ia adalah seorang cendekiawan, diplomat, dan orator yang bersemangat, yang memiliki kepribadian yang tenang.

Ambrosius dilahirkan di Treves, daerah Rhein, pada tahun 340. Ayahnya bernama Aurelius Ambrosius, seorang prefek di Gaul, Perancis Selatan (red: prefek adalah bentuk otoritas rendah untuk suatu kawasan dalam Gereja Katolik Roma yang dibentuk dalam wilayah misi dan di negara yang belum memiliki keuskupan). Sesudah ayahnya meninggal, ibunya kembali ke Roma bersama dua orang saudaranya, yaitu Marselina dan Satyrus. Ambrosius belajar ilmu hukum di Roma dan kemudian membuka praktik sebagai pengacara bersama-sama abangnya, Satyrus, di Sirmium. Ia dibesarkan dalam keluarga Kristen, namun ia merasa cukup menjadi anggota katekumen dahulu. Baptisannya ditunda sesuai dengan kebiasaan pada masa itu.

Pada tahun 370, dia diangkat menjadi Gubernur Provinsi Italia Utara yang wilayahnya meliputi daerah-daerah Liguria, Emilia, dan ibu kotanya, Milano. Di sana terdapat seorang uskup yang bernama Auxentius. Tahun 373, Uskup Auxentius meninggal. Umat harus memilih seorang uskup baru. Di kalangan umat tidak tercapai suatu kesepakatan tentang siapakah yang mereka pilih untuk menjadi uskup mereka. Pada suatu hari, di gereja terjadi kegaduhan besar dalam hal pemilihan uskup. Untuk meredakan kegaduhan tersebut, Ambrosius dengan tergopoh-gopoh memasuki gereja. Tiba-tiba seorang anak kecil berteriak dengan suara yang keras sekali, “Ambrosius, uskup, Ambrosius, uskup,” sehingga semua umat terkejut. Umat percaya bahwa Roh Kuduslah yang berbicara lewat anak kecil tersebut sehingga mereka memilih Ambrosius sebagai Uskup Milano secara aklamasi. Namun, Ambrosius tidak dipersiapkan untuk memangku jabatan gereja yang kudus dan mulia tersebut, terlebih lagi ia belum dibaptis. Persetujuan kaisar diperlukan agar ia dapat menjadi uskup. Kaisar Valentinianus tidak berkeberatan, sehingga Ambrosius dapat ditahbiskan menjadi Uskup Milano pada 7 Desember 374. Beberapa hari sebelum penahbisannya, Ambrosius dibaptiskan. Ia melepaskan kemuliaan duniawinya.

Pada abad ke-4, Milano menjadi tempat kediaman kaisar-kaisar Romawi Barat. Oleh karena itu, Ambrosius bukan hanya menjabat sebagai Uskup metropolitan Milano, tetapi juga sebagai penasihat keluarga kaisar. Pengaruhnya dalam masalah-masalah kegerejaan dan kekaisaran melebihi pengaruh Uskup Roma. Karya keuskupannya berhubungan erat dengan tiga orang Kaisar Romawi. Ia berjuang dengan gigih untuk memertahankan hak-hak dan kewibawaan gereja di hadapan kaisar. Tuntutannya adalah agar kaisar menjadi pembela kepentingan gereja. Kaisar disebutnya sebagai prajurit Kristus. Tahun 375, Kaisar Valentinianus meninggal dan diganti oleh anaknya, Gratianus. Ambrosius memersembahkan dua karya teologis, yaitu “De Fide” (Mengenai Iman) dan “De Spiritu Sancto” (Mengenai Roh Kudus), kepada Kaisar Valentinianus.

Kaisar Gratianus menolak gelar Pontifex Maximus pada tahun 383 dan memerintahkan agar Altar Victoria dikeluarkan dari gedung senat Roma karena pengaruh Ambrosius. Pemimpin-pemimpin agama Roma Kuno tidak senang dengan tindakan sang kaisar. Di bawah pimpinan Quintus Aurelius Symmachus, seorang pejabat tinggi dalam istana kaisar menyampaikan sebuah petisi kepada kaisar agar Altar Victoria dikembalikan ke dalam gedung senat. Kaisar ragu-ragu dan nampaknya akan mengabulkan permohonan tersebut. Ambrosius segera menulis surat kepada kaisar agar kaisar menolak permohonan tersebut. Suratnya antara lain berbunyi: “Semua orang yang hidup di bawah pemerintahan Roma melayani engkau. Engkau adalah kaisar dan raja di atas dunia. Namun dirimu sendiri harus melayani Allah yang Mahatinggi dan Imam Yang Kudus …. Saya heran bagaimana beberapa orang bisa berpikir bahwa engkau akan memerbolehkan membangun kembali altar ilah-ilah kafir.”

Gratianus dibunuh di Lyons pada tahun 383 oleh Magnus Maximus, komandan tentara Romawi di Inggris. Untuk beberapa tahun, Maximus berkuasa di Gaul, sedangkan Milano diperintah oleh Valentinianus II, adik Gratianus. Valentianus baru berumur 12 tahun, sehingga roda pemerintahan dikuasai oleh ibunya, Yustina. Yustina adalah seorang yang bersimpatik kepada golongan Arianisme. Golongan Arianisme meminta kepadanya agar diberikan sebuah gedung gereja di pinggir kota. Sekali lagi, Ambrosius campur tangan. Ia menasihatkan kaisar agar permintaan golongan Arianisme ditolak. Pada tahun-tahun ini, Ambrosius juga berhubungan dengan Augustinus. Augustinus bertobat dan dibaptiskan oleh Ambrosius di Milano pada tahun 387.

Maximus kemudian mengadakan penyerangan ke Italia. Yustina dan Valentinianus melarikan diri dari Milano. Namun, Maximus dikalahkan oleh Theodosius dan dibunuh pada tahun 388.

Ambrosius memunyai hubungan yang erat dengan Kaisar Theodosius. Sekalipun demikian, ia tetap mengecam kebijakan-kebijakan politis Theodosius yang berlawanan dengan kehendak Allah. Pada tahun 390, terjadi huru-hara di kota Tesalonika. Rakyat membunuh panglima kota itu. Theodosius mengirim tentara ke Tesalonika dan mengumpulkan penduduk di gelanggang seolah-olah untuk menonton pertunjukkan. Tiba-tiba tentara membunuh mereka dengan membabi buta. Tujuh ribu orang yang tidak berdosa terbunuh. Peristiwa ini didengar oleh Ambrosius. Ia menulis surat yang keras kepada Kaisar Theodosius. Kaisar dituntut mengakui dosanya di hadapan umum. Jika tidak, maka kaisar tidak diperkenankan mengikuti perjamuan Ekaristi. Jika kaisar ke gereja, maka Ambrosius akan meninggalkan gereja. Dalam suratnya itu, Ambrosius menulis antara lain sebagai berikut: “Bagaimana mungkin engkau memasuki gereja? bagaimana mungkin engkau berdoa sementara tanganmu berlumuran dengan darah pembunuhan? Bagaimana mungkin tanganmu yang demikian dapat menerima tubuh Tuhan yang Mahakudus itu? Bagaimana mungkin engkau dapat meminum darah-Nya yang Mahakudus itu? Janganlah menambah kejahatan di atas kejahatan.”

Kemudian Ambrosius meminta kepada Theodosius untuk mengikuti contoh Daud mengakui dosa perzinahannya. Pada akhirnya, Kaisar Theodosius tunduk kepada tuntutan Uskup Ambrosius. Kaisar mengakui dosanya di hadapan umum. Sejak saat itu, hubungan Theodosius dengan Ambrosius menjadi baik sekali. Theodosius menyatakan bahwa baru sekarang ia menemukan seorang manusia yang menyatakan kepadanya kebenaran, dan hanya Ambrosius yang layak menjadi uskup. Kaisar Theodosius meninggal pada tahun 395 dalam tangan uskupnya, Ambrosius.

Dua tahun setelah meninggalnya Kaisar Theodosius, Ambrosius jatuh sakit. Setelah ia menerima sakramen yang terakhir, maka pada 4 April 397, Ambrosius menghembuskan napasnya yang terakhir. Jenazahnya dikuburkan dalam gereja yang sekarang dikenal dengan nama Gereja St. Ambrogio di Milano.

Dalam bidang liturgi, Ambrosius dikenal dengan liturgi ciptaannya untuk jemaat Milano. Liturgi itu bernama “Liturgia Ambrosius”. Ambrosius juga dikenal sebagai pencipta lagu-lagu. Lagu-lagunya dikenal dengan sebutan “lagu Ambrosian”.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja
Penulis : Dr. F.D. Wellem, M.Th.
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta 1999
Halaman : 4 — 6

Sumber: Bio-Kristi 30

Cyprianus

Posted by Admin On September - 25 - 2010ADD COMMENTS
Sudah dibaca :1372

Cyprianus

Cyprianus merupakan sosok yang menarik, terutama sebagai manusia yang jujur dan seorang uskup yang dengan ramah dan bijaksana memimpin jemaatnya. Cyprianus dilahirkan sebagai putra dari satu keluarga yang kaya raya di Kartage, Afrika Utara, sekitar tahun 200/220. Orang tuanya beragama kafir. Ia memperoleh pendidikan yang biasa diperoleh anak orang kaya pada masa itu, yaitu retorika. Secara formal, tugas seorang ahli pidato hanyalah mengucapkan pidato pada upacara resmi, tetapi orang-orang yang fasih lidah dengan mudah mendapat jabatan yang tinggi dalam negara. Cyprianus sangat dihargai karena kefasihannya.

Kira-kira pada tahun 246, pada umur sekitar 40 tahun, Cyprianus bertobat menjadi Kristen berkat hubungannya dengan seorang pendeta bernama Caecilius. Untuk menghormati pendeta itu, pada waktu Cyprianus dibaptis, ia menambahkan nama pendeta itu pada namanya, menjadi Caecilius Thascius Cyprianus.

Dalam bukunya, “Ad Donatum” (Kepada Donatus), Cyprianus melukiskan bagaimana kehidupannya sebelum bertobat menjadi Kristen sebagai berikut: “Bagaikan orang buta, waktu itu saya lari ke kiri dan ke kanan, tanpa tujuan pada malam gelap gulita, diombang-ambingkan di atas lautan dunia yang bergelora. Saya melayang-layang tanpa pengetahuan yang benar tentang hidup, jauh dari kebenaran dan terang. Melihat tingkah laku saya waktu itu, saya merasa berat dan mustahil untuk melaksanakan perintah Allah yang merupakan jalan keselamatan.”

Sesudah Cyprianus menerima sakramen baptisan yang kudus, ia pun bertobat secara radikal. Harta miliknya dibagi-bagikan kepada orang miskin. Lalu, 2 tahun kemudian sesudah dibaptis (248), Cyprianus dipilih sebagai uskup jemaat Kartage, ibukota provinsi Afrika Utara. Tidak lama ia menggembalakan jemaat dengan tenang. Pada tahun 249, Kaisar Decius naik takhta. Decius adalah seorang yang bersemangat, yang ingin menyelamatkan kekaisaran Romawi yang sudah hampir runtuh akibat serangan-serangan bangsa-bangsa Jerman. Untuk menyelamatkan kekaisaran Romawi, terlebih dahulu perlu dipastikan loyalitas seluruh rakyat. Orang-orang Kristen diduga tidak setia kepada negara, sebab mereka tidak ikut dalam kultus kaisar. Barangkali, tidak ikutnya orang Kristen dalam kultus kaisar menyebabkan para dewa marah terhadap kekaisaran.

Mulailah penghambatan hebat, yang terutama ditujukan kepada pemimpin-pemimpin gereja. Cyprianus menganggap baik untuk melarikan diri dari Kartage dan bersembunyi supaya jemaat kehilangan pemimpinnya. Tindakan ini dikecam oleh para klerus Romawi sebagai tindakan yang kurang berani, tetapi ternyata kemudian tindakan ini bijaksana. Cyprianus menggembalakan jemaatnya dari persembunyiannya dengan jalan surat-menyurat. Setelah Decius meninggal, maka Cyprianus kembali memimpin jemaatnya. Timbullah perselisihan dalam gereja mengenai mereka yang murtad dalam penghambatan, tapi telah menyesal dan ingin kembali ke dalam persekutuan gereja.

Pada umumnya, jemaat memunyai dua sikap. Sikap yang pertama adalah jemaat tidak mau menerima mereka kembali, dan sikap yang kedua adalah menerima kembali tanpa syarat apapun. Cyprianus memilih jalan tengah, yaitu orang-orang yang murtad itu diterima kembali setelah menjalani masa penyesalan yang lama.

Dalam tahun-tahun terakhir hidupnya, Cyprianus berselisih dengan Stephanus, uskup Roma, mengenai sah atau tidaknya baptisan gereja bidat. Menurut Cyprianus, baptisan gereja bidat tidak sah. Sebaliknya, Stephanus berpendapat bahwa baptisan gereja bidat adalah sah. Dasar pendapat Cyprianus adalah tidak seorang pun di luar gereja dapat melayankan sakramen. Gereja bidat berada di luar gereja, di luar uskup, bahkan mereka bukanlah orang Kristen. Cyprianus berkata, “Uskup dalam gereja dan gereja dalam uskup dan jika ia tidak bersama uskup maka ia tidak berada dalam gereja.” Tidak ada keselamatan di luar gereja (Extra ecclesiam nulla sallus), demikian pendapat Cyprianus. Gereja adalah ibu orang percaya.

Stephanus mau memaksa gereja di Afrika untuk mengikuti tradisi jemaat Roma sebagai tradisi universal. Untunglah bahwa segera sesudah pertentangan ini dimulai, Stephanus meninggal dunia dan tidak lama kemudian Cyprianus meninggal sebagai martir, sehingga tidak sampai terjadi perpecahan antara jemaat Roma dengan gereja di Afrika.

Untuk pertama kalinya, muncul dalam pertentangan ini soal primat yurisdiksi dari uskup Roma. Persoalan primat uskup Roma dibahas oleh Cyprianus dalam bukunya, “De Unitate Ecclesiae” (Kesatuan Gereja). Ia mengatakan bahwa uskup adalah wakil dan jaminan kesatuan gereja karena dia dihubungkan dengan teman-teman dalam jabatan uskup oleh karena dasar jabatannya yang sama, yaitu jabatan para rasul. Dari antara para rasul, Petruslah yang memunyai posisi khusus karena kepadanya diserahkan kuasa untuk melepaskan dan mengikat. Karena kuasa itu diserahkan oleh Kristus, dan hanya kepada satu orang rasul saja, maka itu berarti kesatuan gereja ditetapkan oleh Kristus. Akan tetapi, Cyprianus tidak sampai menyimpulkan tentang kuasa yurisdiksi Petrus terhadap rasul-rasul yang lain. Demikian juga ia tidak menyimpulkan bahwa kuasa khusus Petrus diserahkan kepada penggantinya, yaitu uskup Roma. Jemaat Roma dihormati secara istimewa karena Petrus bekerja dan mati di sana. Hak uskup Roma untuk mengadakan campur tangan langsung dalam jemaat lain dengan memberi perintah, ditolak oleh Cyprianus.

Pada tahun 257, penghambatan pecah lagi di bawah pemerintahan Kaisar Valerianus. Sekarang Cyprianus tidak berusaha untuk melarikan diri lagi. Cyprianus diadili oleh Gubernur Afrika, Paternus, dalam balai di Kartago. Dengan berani, Cyprianus mengakui dirinya sebagai seorang Kristen dan uskup. Cyprianus berkata sebagai berikut: “Saya seorang Kristen dan uskup. Saya tidak mengakui dewa-dewa lain di samping Allah yang satu dan benar itu, yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Kami orang Kristen mengabdi kepada Allah; kepada Dia kami berdoa siang dan malam untuk kami dan untuk semua orang dan untuk keselamatan kaisar-kaisar sendiri.”

Karena pengakuan ini, Cyprianus dibuang ke kota Curubis dan ia berdiam di sana beberapa waktu lamanya. Kemudian Paternus diganti oleh Galerius Maximus yang memanggil Cyprianus untuk diadili sekali lagi. Cyprianus tetap berpegang kepada kepercayaannya. Maximus menjatuhkan hukuman mati kepada Cyprianus dan dijawabnya dengan mengatakan: “Syukur kepada Allah” Cyprianus menjalani hukuman mati sebagai martir pada tanggal 14 September 258.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul asli artikel : Cyprianus
Judul buku : Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja
Penulis : Drs. E.D. Wellem, M.Th.
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta 1999
Halaman : 84 — 86

Sumber: Bio-Kristi 38

Titus Flavius Clement

Posted by Admin On September - 25 - 2010ADD COMMENTS
Sudah dibaca :4404

Clement dari Alexandria (Titus Flavius Clement) yang hidup kira-kira pada tahun 150 — 215 adalah filsuf Kristen pertama dan salah satu guru yang paling terkenal di Gereja Alexandria (Church of Alexandria). Dia terkenal karena usahanya menyatukan filosofi Yunani dengan ajaran-ajaran Kristen dan menarik sejumlah besar penyembah berhala ke gereja. Semangatnya terhadap filosofi, khususnya pada ajaran-ajaran Plato, berperan besar dalam penyebaran agama Kristen di Yunani. Dari dulu hingga sekarang, ia dianggap sebagai tokoh yang sangat tidak ortodoks dan kontroversial dalam sejarah gereja. Read the rest of this entry »

Origenes

Posted by Admin On September - 25 - 2010ADD COMMENTS
Sudah dibaca :2089

Origenes

Pada awalnya, kekristenan dicemooh sebagai agama orang-orang miskin dan tidak terpelajar, dan memang sesungguhnya banyak penganutnya datang dari kalangan rendah. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Rasul Paulus, bahwa di gereja “untuk ukuran manusia, tidak banyak orang bijak, tidak banyak orang berpengaruh, tidak banyak orang terpandang” (1 Kor.1:26).

Namun menjelang abad ketiga, cendekiawan terhebat pada masa itu adalah seorang Kristen. Baik karir, penganut ajaran sesat maupun orang Kristen, semuanya mengagumi Origenes. Ia memunyai pengetahuan luas dan ilmu yang tinggi, yang berpengaruh penting bagi pemikiran Kristen pada kemudian hari.

Origenes lahir di Alexandria pada tahun 185. Ia berasal dari keluarga Kristen yang saleh. Kira-kira pada tahun 201, ayahnya Leonidas dipenjarakan dalam satu gelombang penyiksaan oleh Septimus Severus. Origenes pun menulis surat kepada ayahnya di penjara agar tidak memungkiri Kristus demi keluarganya. Meskipun Origenes ingin menyerahkan diri kepada penguasa agar dapat menjadi martir bersama-sama dengan ayahnya, namun ibunya mencegahnya dengan menyembunyikan pakaiannya.

Setelah Leonidas mati sebagai martir, hartanya disita dan jandanya terlantar dengan 7 orang anak. Origenes pun mulai menanggulangi keadaan dengan bekerja sebagai guru kesusastraan Yunani dan penyalin naskah. Karena banyak di antara cendekiawan senior telah meninggalkan Alexandria dalam gelombang penyiksaan, maka sekolah kateketik Kristen sangat membutuhkan tenaga pengajar. Pada usianya yang ke-18, Origenes pun memangku jabatan kepala sekolah tersebut dan memulai karier mengajarnya yang panjang termasuk belajar dan menulis.

Ia menjalani kehidupan asketis, menghabiskan waktunya pada malam hari dengan belajar dan berdoa, serta tidur di lantai tanpa alas. Mengikuti titah Yesus, ia memiliki hanya satu jubah dan tidak memunyai alas kaki. Ia bahkan mengikuti Matius 19:12 secara harfiah; mengebiri dirinya untuk mencegah godaan jasmani. Origenes berhasrat setia pada gereja dan membawa kehormatan bagi nama Kristus.

Sebagai seorang penulis yang sangat produktif Origenes dapat membuat tujuh sekretarisnya sibuk dengan dikteannya. Ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya, termasuk tafsiran-tafsiran atas setiap buku dalam Alkitab serta ratusan khotbah. Karyanya “Hexapla” merupakan prestasi dalam bidang kritik teks. Di dalamnya, ia mencoba menemukan terjemahan Yunani yang terbaik bagi Perjanjian Lama dan dalam enam kolom sejajar ia membentangkan Perjanjian Lama Ibrani, sebuah transliterasi Yunani, tiga terjemahan Yunani dan Septuaginta. “Against Celsus” adalah karya besar yang merupakan pertahanan bagi kekristenan terhadap serangan kafir. “On First Principles” merupakan upaya pertamanya dalam teologi sistematis; di sini Origenes dengan saksama meneliti keyakinan Kristen tentang Allah,Kristus,Roh Kudus,penciptaan,jiwa,kemauan bebas,keselamatan dan Kitab Suci.

Origenes bertanggung jawab atas peletakan dasar-dasar penafsiran alegoris terhadap Kitab Suci yang berpengaruh pada abad-abad pertengahan. Pada setiap teks, ia percaya ada tiga tingkat pengertian: pengertian harfiah, pengertian moral, yaitu untuk memperbaiki jiwa, dan pengertian alegoris atau pengertian rohani, yakni pengertian tersirat yang penting untuk iman Kristen. Origenes sendiri mengabaikan makna harfiah atau gramatikal-historis teks dan lebih menekankan makna alegoris.

Origenes berupaya menghubungkan kekristenan dengan ilmu pengetahuan dan filsafat pada masanya. Ia percaya bahwa filsafat Yunani merupakan persiapan untuk memahami Kitab Suci dan secara analogi, yang kemudian dianut Augustinus, bahwa khazanah pengetahuan orang kafir digunakan oleh orang Kristen, seperti orang Israel “merampasi orang Mesir itu” (Kel.12:35-36).

Dalam mempelajari filsafat Yunani, Origenes telah mengambil banyak gagasan Plato yang sangat asing dengan kekristenan Ortodoks. Dari kesalahan-kesalahannya yang paling mencolok adalah paham Yunani bahwa benda dan dunia ini jahat. Ia percaya akan eksistensi roh sebelum lahir dan mengajarkan bahwa keberadaan manusia di atas bumi ini ditentukan oleh perilakunya ketika dalam keadaan praeksistensi (sebelum lahir). Ia menolak paham kebangkitan daging dan mempertimbangkan gagasannya bahwa akhirnya Allah akan menyediakan keselamatan bagi semua manusia dan malaikat. Karena Allah tidak mungkin menciptakan bumi ini tanpa berhubungan langsung dengan zat awal, maka Sang Bapa memperanakkan Putra-Nya untuk menciptakan bumi yang abadi ini. Ketika Sang Putra mati di kayu salib, maka itu hanya kemanusiaan Yesus yang mati sebagai tebusan bagi iblis atas kejahatan dunia.

Karena kesalahan-kesalahan semacam ini, maka Uskup Demetrius dari Alexandria mengadakan sidang yang mengekskomunikasi Origenes dari Gereja. Meskipun Gereja Roma dan Barat menerima ekskomunikasi ini, namun Gereja di Palestina dan sebagian besar Gereja Timur tidak menerimanya. Mereka masih mencari Origenes karena pengetahuan, kebijaksanaan, dan kecendekiawanannya.

Dalam gelombang penyiksaan pada masa Decius, Origenes dipenjarakan, disiksa dan diputuskan untuk dihukum mati pada tiang. Tetapi hukuman itu tidak terlaksana karena kaisar telah meninggal dunia. Karena penderitaan (batin) inilah Origenes jatuh sakit, kemudian meninggal sekitar tahun 251. Ia telah berbuat banyak, lebih daripada yang orang lain pernah lakukan untuk meningkatkan pemikiran Kristen dan membuat Gereja dihormati di mata dunia. Pada kemudian hari, Bapa Gereja di Barat maupun di Timur merasakan pengaruhnya. Keanekaragaman pikiran dan tulisannya telah membawa reputasi baginya sebagai bapa ortodoksi dan bapa ajaran sesat.

Diambil dari:

Judul artikel : Origenes Mulai Menulis
Judul buku : 100 Peristiwa Penting Dalam Sejarah Kristen
Penulis : A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang, & Randy Petersen
Penerjemah : A. Rajendran
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1991
Halaman : 12 — 14

Sumber: Bio-Kristi 47

“Mengenal kehendak Allah bukanlah proses menerima informasi langsung dari Allah tentang persoalan hidup, tetapi proses mengenali persoalan hidup berdasarkan wahyu yang telah diberikan Allah kepada kita.” (Rev. Prof. Gary T. Meadors, Th.D., Decision Making God’s Way, hlm. 185)