TEROPONG EDUKASI PENDIDIK KREATIF
Oleh: Johana R Nirmala
Guru yang biasa-biasa, berbicara
Guru yang bagus, menerangkan
Guru yang hebat, mendemonstrasikan
Guru yang agung, member inspirasi
(William Arthur Ward)
Fakta persoalan klise tentang guru
Salah satu hal yang sangat memprihatinkan dalam dunia pendidikan kita saat ini ialah masalah sumber daya manusia, terutama guru. Di satu sisi, guru merupakan ujung tombak keberhasilan pendidikan. Akan tetapi di sisi lain tingkat kesejahteraan dan pembinaan terhadap guru masih jauh dari cukup untuk mengemban tugas yang mahaberat sebagai orang yang patut digugu dan ditiru dan selalu harus berkembang secara dinamis. Kenyataan ini merupakan persoalan klise yang dari tahun ke tahun kurang mendapatkan perhatian secara serius. Padahal di tangan para guru., masa depan bangsa dan negeri ini ditentukan (Sukadi, 2010).
Rasanya sulit diharapkan kepribadian dan kompetensi yang maksimal muncul dari seorang guru yang mengalami kekurangan secara ekonomis atau finansial. Bagaimana mungkin seorang guru dapat mengembangkan kepribadian positif apabila ia senantiasa disibukkan oleh usaha memenuhi keperluan hidup diri dan keluarganya yang masih kurang. Bagaimana mungkin seorang guru dapat mengembangkan kompetensi dirinya secara baik apabila ia tidak memiliki biaya untuk mengembangkan diri? Dengan kata lain, secara revolusioner sulit rasanya menjadi guru menyenangkan apabila tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya secara layak (Sukadi, 2010).
Meskipun dalam keadaan sulit seorang guru biasanya masih dapat terus berusaha untuk mencapai hasil yang optimal. Tidak sedikit yang dengan keterbatasan mampu mendidik dan melakukan aktivitas pembelajaran misalnya Butet Manurung dengan belajar di pedalaman hutan Jambi, para guru yang berada di pelosok dengan gaji atau honor kadang tidak jelas dan tidak rutin, ibu guru Muslimah dalam laskar Pelangi kalau memang benar ada. Bapak guru yang merangkap jadi pemulung.
Di lain sisi karena banyak tekanan yang berasal dari tuntutan penyelesaian administrasi, kemampuan mengelola kelas, tekanan dari atasan, sampai pada tekanan untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan gaji gurunya, guru menjadi mengalami burnout. Burnout adalah istilah psikologis untuk menamai suatu kondisi kelelahan jangka panjang dan disertai dengan berkurangnya minat. Burnout merupakan suatu respon terhadap tekanan pekerjaan yang membuat seseorang merasa tidak berdaya, putus asa, lelah, letih dan frustasi. Penyebabnya ditenggarai adalah waktu bekerja yang ekstra panjang beban tugas yang melampaui kapasitas individual, serta kurangnya waktu beristirahat yang berkualitas (Bemoe dalam Majalah Educare No. 4/VII/Juli 2010).
Citra guru di masyarakat atau di Negara kita berubah dari waktu ke waktu. Perubahan citra guru tersebut dipengaruhi oleh perubahan aspirasi (penilaian dan penghargaan) warga masyarakat terhadap jabatan guru, unjuk kerja para guru yang telah berkarya (performance), dan adanya perubahan persyaratan jabatan guru sebagai dampak kemajuan ilmu dan teknologi (era profesionalisasi dan spesialisasi) (Samana, 1994: 13).
Teropong edukasi pendidik
Karya kependidikan, entah yang dilakukan oleh seorang guru (pendidik profesional) atau yang dilakukan oleh orang tua (pendidika alami), yang dilakukan seorang pemimpin, yang dilakukan oleh orang dewasa pada umumnya yang ikut bertanggung jawab dalam pembimbingan anak dan atau remaja, adalah karya sosial yang besar (mendasar dan berdampak luas) dalam kehidupan masyarakat dan atau negara (Samana, 1994: 9).
Kompleksitas kegiatan pendidikan mengarahkan ke suatu kesimpulan bahwa tugas seorang pendidik adalah berat sekaligus mulia dan agar seorang pendidik mampu menyumbang jasa yang memadai dalam membantu perkembangan peserta didik ke arah pencapaian serta peningkatan kedewasaannya pendidik tersebut dituntut peranannya sebagai model (teladan=panutan) dan sekaligus mampu memberikan bimbingan (berkecakapan mendidik) kepada peserta didik (Samana, 1994: 11).
Guru yang menyenangkan adalah guru yang dapat memberikan kesenangan dan kepuasan belajar bagi siswa. Ciri-cirinya ialah pembelajarannya efektif dan efisien, para siswa merasa senang dan gembira belajar bersamanya, kepribadiannya positif, serta memiliki kompetensi yang andal dalam bidang tugasnya. Inilah yang penulis maksudkan dengan guru yang menyenangkan (Sukadi, 2010).
Guru menyenangkan tidak dilahirkan tetapi dibina dan dibentuk, kita harus memulai dengan membangun karakter dan kepribadian terlebih dahulu. Betapapun berbagai usaha dikerahkan untuk membangun guru agar dapat tampil menyenangkan, tanpa memperbaiki karakter dan kepribadiannya, maka pekerjaan itu akan sia-sia.
Guru menyenangkan tidak hanya sekadar menyenangkan pembelajarannya, tetapi hasil pembelajarannya pun baik. Jadi apabila ada guru yang pembelajarannya disenangi oleh siswa, tetapi hasil belajarnya tidak bagus, ia bukanlah guru yang dimaksud. Guru menyenangkan tentu akan berusaha kreatif ditinjau dari motivasi menjadi guru, cara menghadapi para siswa, cara membimbing siswa, cara memberikan nilai, reaksinya dalam merepons stimulus, sikapnya dalam menghadapi perubahan.
Dalam filosofi Ki Hajar Dewantara, guru motivator adalah guru yang mampu membangun semangat siswa dan mendorong dari belakang (ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani). Kalau proses belajar bisa disusun sedemikian rupa dan prasarananya bisa didayagunakan untuk membantu proses pemerolehan dan penggunaan pengetahuan, tentunya kemajuan bisa dipercepat dan pemahaman bisa ditingkatkan. Ketrampilan berpikir kreatif harus selalu dibelajarkan, diolah, dan ditrampilkan, dievaluasi kemudian diperbaiki dan diperbaiki untuk semakin berkembang.
Dalam situasi sosial apapun jabatan guru tetap dinilai oleh warga masyarakat sebagai pemberi inspirasi, penggerak, dan pelatih dalam penguasaan kecakapan tertentu bagi sesame, khususnya para siswa agar mereka siap untuk membangun hidup beserta lingkungan sosialnya. Dapat dipastikan bahwa guru yang semakin bermutu semakin besar sumbangannya bagi perkembangan diri siswanya dan perkembangan masyarakatnya., mampu berperan sebagai pemimpin di antara kelompok siswanya dan juga di antara sesamanya, berperan sebagai pendukung serta penyebar nilai-nilai luhur yang diyakininya dan sekaligus sebagai teladan bagi siswa serta lingkungan sosialnya dan sekaligus sebagai teladan bagi siswa serta lingkungan sosialnya, dan secara lebih mendasar guru yang bermutu tersebut giat mencari kemajuan dalam peningkatan kecakapan diri dalam berkarya dan dalam pengandian sosialnya (Samana, 1994: 14).
Guru, menurut J Sudarminta, diharapkan menguasai atau mempunyai daya foresight intelelectual curiosity, dan kemampuan berpikir lateral (Samana, 1994: 21). Dalam hal teknis didaktis, guru yang bermutu mampu berperan sebagai fasilitator pengajaran (sebagai nara sumber yang siap memberi konsultasi secara terarah bagi siswanya), mampu mengorganisasi pengajaran secara efektif serta efisien (mampu merancang serta melaksanakan langkah-langkah pengajaran dan atau memandu belajar siswa secara produktif), mampu membangun motivasi belajar siswanya, mampu berperan dalam layanan bimbingan dan sebagai penilai hasil belajar siswa demi bimbingan belajar yang bersangkutan lebih lanjut (Samana, 1994: 15).
Menurut A.S Lardizabal (et.al) (1978: 5-7 ) dalam Samana 1994 kompetensi personal-sosial yang disarankan diantaranya guru mampu berbuat kreatif dengan penuh perhitungan. Tugas keguruan tidak dapat dipolakan secara mekanis, eksak dan dengan resep tunggal. Variasi tindak keguruan yang meliputi pendekatan pengajaran, strategi, metode, teknik dan sejenisnya tidak terbatas adanya. Dalam hal ini guru dituntut mampu bertindak kreatif dalam melaksanakan tugas keguruannya. Dalam batas tertentu tindak kependidikan tersebut bersifat seni (art) karena bersifat khas, autentik, penuh alternatif, dan bersifat mendasar bagi kehidupan seseorang.
Guru kreatif adalah guru yang mampu menciptakan dan mencetuskan sesuatu yang baru dan unik . pembelajaran terasa segar dan merangsang karena ia senantiasa menggunakan cara-cara yang baru dan unik, mampu menemukan dan menghasilkan berbagai cara, strategi, dan karya yang sangat bermanfaat untuk keperluan pendidikan, kaya akan gagasan dan dalam menghadapi setiap persoalan. Setiap keburukan yang menimpa dijadikannya sebagai peluang untuk mencapai kebaikan (Sukadi, 2010).
Kekreativitasan pendidik diantaranya: Butet Manurung belajar di alam pada masyarakat pedalaman Jambi, Potret ibu guru Muslimah dengan keterbatasan yang ada mendidik murid-muridnya pantang menyerah dengan keterbatasn yang dihadapi, ibu kembar Kartini yang mendidik anak-anak di kolong jembatan dan masih banyak lagi pendidik profesional maupun pendidik alami yang bergulat berjuang melawan keterbatasan dengan semangat dan punya kreativitas yang tinggi.
Sumber bacaan:
Samana. 1994. “Profesionalisme Keguruan”. Yogyakarta: Kanisius
Bemoe, Agnes. 2010. “Waspadai Burnout Pada Guru” dalam majalah Educare No. 4/VII/Juli
Sukadi. 2010. “Guru Malas Guru Rajin”. Bandung: MQS Publishing
Muhibbin Syah M. ed. 2003. “Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru”. Bandung: PT Remaja Rosda Karya
(disampaikan dalam acara talkshow pendidikan di radio Harmoni bersama penulis. Acara ini disiarkan secara langsung baik melalui pancaran radio 107,1FM maupun siaran streaming)




memang benar Guru dituntut kreatif dan profesional, namun kita tidak boleh mengingkari perubahan kurikulum yang berpusat pada kompetensi siswa. pertanyaan saya “bagimana memulainya untuk menerapkan pendidikan kreatif ini”????
[Reply]